Wamenko: Ketahanan Pangan Kian Menguat, Stok Beras 5 Juta Ton
Wakil Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Lodewijk F. Paulus menyatakan pemerintah memperkuat ketahanan pangan nasional dengan menyiapkan cadangan beras yang dianggap memadai. Pernyataan itu disampaikan pada Rapat Pleno Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) Ke-8 di Jakarta, Sabtu, 25 Juli 2026.
Cadangan beras dan antisipasi El Nino
Lodewijk menyebutkan pemerintah telah menempatkan beras sebagai bagian dari strategi ketahanan pangan nasional. Saat ini tersedia stok cadangan 5 juta ton beras untuk kebutuhan nasional.
“ Terkait dengan ketahanan pangan, kebijakan pemerintah sedang menuju ke sana. Yang jelas beras sudah kita masuk pada ketahanan pangan, kita sudah punya stok 5 juta ton untuk cadangan,”
Menurut Lodewijk, ia telah menanyakan kesiapan pasokan kepada Kepala Bulog untuk menghadapi potensi dampak El Nino Godzilla dalam enam bulan ke depan. Kepala Bulog memastikan stok tetap cukup, sehingga pemerintah bisa mengantisipasi berbagai kemungkinan.
Sebagai langkah kehati-hatian, pemerintah mempertimbangkan langkah-langkah manajemen stok agar kelebihan persediaan tidak menimbulkan masalah baru.
Status impor dan surplus beras
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyampaikan perkembangan impor dan produksi beras. Menurut Zulkifli, Indonesia tercatat tidak mengimpor beras selama satu tahun terakhir.
“Segala yang menyangkut petani, kita berpihak terus sama mereka. Tahun 2024 kita impor beras 4,5 juta, 2025 nggak impor lagi, kita surplus 4,2 juta ton,”
Peralihan dari kondisi impor pada 2024 menuju surplus pada 2025 menunjukkan peningkatan pasokan dalam negeri. Angka surplus yang disampaikan menunjukkan kemampuan produksi nasional menutup kebutuhan konsumsi sekaligus menyediakan cadangan.
Dampak pada petani dan indikator kesejahteraan
Zulkifli menilai kebijakan ini berdampak positif bagi kesejahteraan petani padi. Ia menyebut kondisi di lapangan menunjukkan perbaikan ekonomi petani.
Data yang dikutip Zulkifli termasuk laporan dari Bank Dunia, Bank Indonesia, dan Badan Pusat Statistik. Salah satu indikator yang disebut naik adalah Nilai Tukar Petani untuk padi dan jagung, yang tercatat meningkat dari 116 menjadi 127 sepanjang 2025.
Kenaikan nilai tukar ini dinilai menunjukkan perbaikan pendapatan petani setelah serangkaian kebijakan pemerintah diterapkan.
Implikasi dan langkah ke depan
Dengan stok 5 juta ton dan kondisi surplus, pemerintah menegaskan kesiapan menghadapi fluktuasi iklim dan gangguan pasokan. Namun, langkah kebijakan tetap diarahkan hati-hati agar stok yang tersedia dikelola secara efisien.
Ke depan, pemerintah diharapkan terus memantau kondisi produksi, pasokan, serta kesejahteraan petani untuk memastikan ketahanan pangan berkelanjutan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Kemenbud Usulkan Tari Zapin ke UNESCO untuk Perkuat Pelestarian
Kementerian Kebudayaan mengusulkan Tari Zapin ke UNESCO (29 Sept 2026) untuk memperkuat pelestarian lintas g...
Korlantas Buka Layanan Blokir ETLE di Samsat Seluruh Indonesia
Korlantas membuka layanan pengurusan blokir ETLE langsung di Samsat mulai 30 September 2026 untuk memudahkan...
STNK Digital Resmi Berlaku, Pengendara Tak Perlu Bawa STNK Fisik
Korlantas luncurkan STNK Digital lewat aplikasi Digital Korlantas; dokumen elektronik ini setara hukum denga...
Basarnas Alihkan Pencarian Jurnalis ke Operasi SAR Rutin
Basarnas tetap melanjutkan pencarian lima jurnalis lewat operasi SAR rutin; pencarian berlangsung 24 jam ses...
Wamensos Dorong Pembangunan Sekolah Rakyat di Pekalongan
Wamensos mendorong percepatan pembangunan Sekolah Rakyat di Pekalongan; Pemkab sediakan lahan 8,1 ha untuk m...
Menko Pangan Tawarkan Insentif Karbon untuk Investor Hijau
Menko Pangan Zulkifli Hasan tawarkan insentif pasar karbon untuk tarik investasi hijau di sektor pangan, sam...