Reog Bulkiyo, Kesenian Blitar Berakar dari Perang Diponegoro
Reog Bulkiyo adalah kesenian tradisional Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, yang berakar dari Perang Jawa (1825–1830) dan masih dilestarikan hingga kini. Penelitian Institut Seni Indonesia Surakarta menyebut seni ini berkembang dari praktik prajurit Pangeran Diponegoro yang mengungsi ke wilayah tersebut. Pertunjukan menonjolkan gerakan perang dan musik tradisional, bukan simbol dadak merak seperti pada Reog Ponorogo.
Asal-usul dan sejarah singkat
Menurut penelitian Institut Seni Indonesia Surakarta, Reog Bulkiyo muncul pada masa Perang Jawa antara 1825–1830. Para prajurit Diponegoro yang mengungsi ke Desa Kemloko diduga menciptakan bentuk pertunjukan ini sebagai media latihan dan ekspresi perjuangan. Seiring waktu, seni ini bertransformasi dari latihan militer menjadi warisan budaya lokal.
Ciri khas pertunjukan
Pertunjukan Reog Bulkiyo menonjolkan gerak perang, kostum bertema prajurit, dan alur cerita perjuangan. Musik pengiringnya berbeda signifikan: pembukaan memakai kecer yang dipadukan dengan rebana, sronen, kenong, dan kempul. Komposisi ini menghasilkan karakter musikal yang khas dan membedakan Reog Bulkiyo dari bentuk reog lain.
Perbedaan utama dengan Reog Ponorogo
Meski sama-sama bernama Reog, Reog Bulkiyo dan Reog Ponorogo memiliki latar, bentuk pertunjukan, dan filosofi berbeda. Perbedaan berikut menegaskan identitas masing-masing kesenian:
- Asal: Reog Bulkiyo berasal dari Desa Kemloko, Blitar; Reog Ponorogo berasal dari Kabupaten Ponorogo.
- Latar cerita: Bulkiyo mengangkat kisah prajurit Diponegoro pada Perang Jawa; Ponorogo mengangkat mitos seperti Ki Ageng Kutu dan Dewi Songgolangit.
- Simbol: Bulkiyo tidak menggunakan dadak merak atau barongan; Ponorogo menampilkan Singo Barong berhiaskan dadak merak.
- Tokoh dan kostum: Penari Bulkiyo berbusana prajurit; Ponorogo menampilkan Warok, Jathil, Klono Sewandono, dan Bujang Ganong.
- Alat musik: Bulkiyo menonjolkan kecer, rebana, sronen, kenong, dan kempul; orkestrasi Ponorogo berbeda dan khas pada gamelan olahannya.
Fungsi sosial dan pelestarian
Dulu Reog Bulkiyo berfungsi sebagai latihan bertempur dan media solidaritas prajurit. Kini fungsi sosialnya berubah mengikuti kebutuhan masyarakat setempat. Pertunjukan sering tampil dalam acara adat, peringatan hari besar, dan festival budaya daerah, sehingga terus hidup sebagai identitas lokal.
Perbedaan bentuk dan asal-usul dua reog ini memperkaya keragaman budaya Nusantara. Ke depan, pelestarian Reog Bulkiyo bergantung pada dukungan komunitas lokal dan program kebudayaan yang mengakui nilai sejarahnya sebagai bagian dari narasi Perang Jawa.
Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.
Berita Terkait
India Tawarkan Bantuan Kembangkan 'Bali Baru' untuk Kurangi Tekanan Pariwisata
India menawarkan bantuan kembangkan "Bali baru" setelah proyek konservasi Prambanan untuk mengurangi penumpu...
Tower Menagerie: Cikal Bakal Kebun Binatang Modern Inggris
Tower Menagerie di Tower of London adalah koleksi satwa eksotis sejak abad ke-13 yang menjadi cikal bakal ke...
Hari Anak Nasional 2026: Sejarah, Tema, dan Makna 23 Juli
Hari Anak Nasional diperingati 23 Juli; 2026 tema "Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan" untuk memper...
FBI Kembalikan Artefak Budaya Papua ke Indonesia
FBI memulangkan artefak budaya Papua pada 23 Juli 2026; benda akan dipamerkan di Museum Nasional setelah ker...
23 Juli 2026: Hari Anak, Hari Tanpa TV, Hari Waspada Cacing
23 Juli 2026 memperingati Hari Anak Nasional, Hari Tanpa TV, dan Hari Waspada Cacing—peringatan untuk hak an...
8,8 Juta Siswa Disaring Program CKG: Gigi, Anemia, Tekanan Darah
Program CKG telah menyaring 8,8 juta siswa hingga 14 Juli 2026; temuan utama: gigi berlubang, anemia, dan te...