Peneliti Temukan Jejak Kehidupan Kota Majapahit di Trowulan
Peneliti BRIN menemukan jejak kehidupan Kota Majapahit di Trowulan, Mojokerto, lewat temuan sumur dan bukti permukiman, Kamis, 24 Juli 2026. Temuan ini memperkuat gambaran bahwa kawasan itu merupakan pusat pemukiman berkelanjutan sejak abad ke-10 hingga puncak Majapahit.
Temuan sumur kuno dan akses air bersih
Tim Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah (PRAPS) BRIN melaporkan penemuan kembali 63 sumur kuno di kawasan Nglinguk Wetan, Trowulan. Penemuan ini menandakan adanya sistem pemanfaatan air yang mendukung kehidupan kota besar.
"Akses ke air bersih tampak dari temuan kembali 63 sumur kuno di kawasan Nglinguk Wetan,"
Pernyataan itu disampaikan oleh peneliti PRAPS, Yusmaini Aryawati, dalam keterangan tertulis di Jakarta pada 25 Juli 2026. Menurutnya, keberadaan sumur menunjukkan upaya terorganisir untuk memenuhi kebutuhan air warga.
Luasan dan batasan Kota Majapahit di Trowulan
Tim menaksir luas kawasan kota di Trowulan mencapai sekitar 10 km x 10 km. Area ini meliputi beberapa desa dan kecamatan di Kabupaten Mojokerto, yang selama ini dikenal kaya situs arkeologi.
Perkiraan luas tersebut membantu memetakan zona-zona permukiman, pusat kegiatan, serta jaringan utilitas yang mungkin ada pada masa Majapahit.
Jejak permukiman sebelum dan selama Majapahit
Penelitian menunjukkan bahwa Trowulan sudah dihuni jauh sebelum berdirinya Majapahit. Jejak permukiman tercatat sejak abad ke-10 Masehi, masa Kerajaan Mataram Kuno, dan berlanjut pada era Singhasari.
Dengan demikian, pola pemukiman di Trowulan tidak serta merta muncul saat Majapahit berdiri, melainkan merupakan kelanjutan dari fase-fase pemukiman sebelumnya.
Hubungan Singhasari dan Majapahit
Peneliti PRAPS lain, Sugeng Riyanto, menduga karakter permukiman Majapahit di Trowulan merupakan lanjutan dari era Singhasari. Hal ini diperkuat oleh hubungan kekerabatan dinasti yang disebut Wangsa Rajasa.
"Garis keturunan ini diperkirakan bermula sejak Ken Arok menaklukkan Kerajaan Kediri pada 1222 Masehi,"
Sugeng mengemukakan bahwa kontinuitas politik dan budaya itu mungkin mempengaruhi tata ruang dan struktur sosial di Trowulan.
Implikasi dan langkah berikutnya
Temuan ini memperkaya pemahaman mengenai perencanaan kota, manajemen air, dan kontinuitas permukiman di Jawa Timur. Selanjutnya, tim PRAPS diharapkan melakukan penggalian terfokus dan kajian laboratorium untuk menegaskan fungsi sumur serta kronologi pemukiman.
Hasil penelitian ini juga membuka peluang perlindungan situs dan pengembangan interpretasi sejarah yang lebih komprehensif bagi publik dan peneliti.
Editor teknologi yang mengulas gadget, kecerdasan buatan, startup, dan inovasi digital.
Berita Terkait
THEFI 2026 Buka Peluang Beasiswa S1–S3 di Taiwan
THEFI 2026 digelar 1–9 Agustus di lima kota; 65 universitas Taiwan tawarkan beasiswa S1–S3 dan layanan konsu...
KPPU Rampungkan Investigasi TikTok Shop–Tokopedia, Menuju Sidang
KPPU menyelesaikan penyidikan dugaan praktik monopoli TikTok Shop–Tokopedia dan akan segera melanjutkan kasu...
MK: Operator Dilarang Hanguskan Kuota Pelanggan
MK memutuskan operator tidak boleh menghapus kuota tak terpakai dan harus menyediakan mekanisme seperti roll...
Indonesia Gaet Investor China untuk Percepat Investasi Data Center
Indonesia mengundang investor China untuk menanam modal di sektor data center yang tumbuh pesat, didukung in...
MCFIT Season 2 Digelar di Bekasi, Pemenang Wakili Indonesia ke ASEAN
MCFIT Season 2 dimulai di Bekasi (21 Juli 2026). Pemenang nasional akan wakili Indonesia ke Grand Final ASEA...
Mengapa Motor Dilarang Masuk Jalan Tol: Aturan dan Risikonya
Sepeda motor dilarang melintas di jalan tol sesuai aturan untuk mengurangi risiko kecelakaan; pengecualian h...