Semeru Erupsi Lagi: Dentuman 128 Detik, Warga Diminta Waspada
Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur, kembali erupsi pada Rabu malam, 16 September 2026 pukul 22.18 WIB. Letusan tidak terlihat secara visual, namun terekam seismograf dengan amplitudo maksimum 25 milimeter dan durasi 128 detik. Suara dentuman dan gemuruh terdengar di sekitar kawasan, sementara status vulkanik masih Level III (Siaga).
Rekaman seismograf dan laporan pengamatan
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru dari PVMBG, Agastya Rajendra, menyatakan letusan tidak tampak secara visual karena kondisi pengamatan terbatas. Namun alat merekam jelas lonjakan sinyal dan durasi kejadian.
"Erupsi Gunung Semeru pada pukul 22.18 WIB, visual letusan tidak teramati. Letusan Gunung Semeru itu disertai suara dentuman/gemuruh,"
Dampak terhadap masyarakat
Kepala Pelaksana BPBD Lumajang, Isnugroho, mengkonfirmasi adanya suara gemuruh yang bersamaan dengan erupsi. Berdasarkan laporan awal, suara itu belum menimbulkan dampak fisik terhadap warga di wilayah terdampak.
"Alhamdulillah tidak ada dampak akibat suara gemuruh tersebut,"
Rekomendasi keselamatan dan zona berbahaya
Otoritas meminta masyarakat menaati pembatasan wilayah untuk mengurangi risiko. Rekomendasi difokuskan pada sektor tenggara gunung dan aliran sungai yang berpotensi menjadi jalur bahaya.
- Dilarang beraktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga sejauh 13 kilometer dari puncak.
- Di luar radius itu, masyarakat diminta tidak beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) sepanjang Besuk Kobokan.
- Dilarang melakukan aktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah atau puncak karena risiko lontaran batu pijar.
"Di luar radius tersebut, masyarakat diminta tidak beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai sepanjang Besuk Kobokan. Potensi bahaya berupa perluasan awan panas dan aliran lahar dapat mencapai hingga 17 kilometer dari puncak,"
Risiko lahar, awan panas, dan titik perhatian
Badan Geologi Kementerian ESDM dan BPBD memberi perhatian khusus pada kemungkinan perluasan awan panas dan aliran lahar. Beberapa alur sungai yang dipantau ketat meliputi:
- Besuk Kobokan
- Besuk Bang
- Besuk Kembar
- Besuk Sat
Selain itu, anak sungai kecil dari Besuk Kobokan berpotensi membawa lahar. Masyarakat di sepanjang aliran diminta meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti arahan instansi berwenang.
Pemantauan dan langkah selanjutnya
Petugas terus memantau aktivitas vulkanik di Pos Pengamatan. Masyarakat di wilayah terdampak diimbau untuk selalu memperbarui informasi dari PVMBG dan BPBD serta menyiapkan jalur evakuasi jika diperlukan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Elektrifikasi Dorong Ekonomi Desa, Omzet Warung dan Panen Naik
Kepala Bakom RI Muhammad Qodari mengatakan elektrifikasi meningkatkan produktivitas dan omzet usaha desa, de...
Bahlil Bungkam soal Fahd A Rafiq yang Jadi Tersangka KPK
Ketum Golkar Bahlil Lahadalia enggan komentar setelah KPK tetapkan Fahd A Rafiq tersangka kasus OTT HGB Summ...
Kementan Negosiasikan Ekspor Karkas Ayam ke Arab Saudi
Kementan menegosiasikan ekspor karkas ayam ke Arab Saudi untuk memenuhi kebutuhan jemaah umrah dan haji, den...
Pengamat Minta Anggaran Keselamatan Transportasi Tak Dipangkas
Pengamat minta anggaran keselamatan transportasi dipertahankan setelah beberapa kecelakaan kapal; sorotan ju...
KUR Perumahan Serap Rp25,29 T, 86 Ribu Rumah Direnovasi
KUR Perumahan terserap Rp25,29 triliun per 16 Sept 2026; 108.000 penerima dan 86.000 rumah direnovasi, plafo...
BGN Perkuat Regulasi untuk Pastikan Pelaksanaan Program MBG
BGN memperkuat regulasi MBG agar pelaksanaan program jelas, terukur, dan konsisten hingga tingkat layanan ma...