Rupiah Tembus Rekor Rp18.023 per Dolar AS
Nilai tukar rupiah menembus level psikologis baru pada pembukaan perdagangan Kamis, 4 Juni 2026. Mata uang domestik tercatat melemah 0,32 persen atau 57 poin menjadi Rp18.023 per dolar AS. Pelemahan ini dipicu kombinasi faktor eksternal dan domestik yang memperkuat permintaan terhadap dolar.
Pendorong penguatan dolar
Analis mengatakan peningkatan tensi geopolitik di Timur Tengah membuat greenback menguat. Selain itu, data tenaga kerja dan sektor jasa Amerika Serikat juga menunjukkan hasil lebih kuat dari perkiraan.
Data ketenagakerjaan swasta pada Mei 2026 tercatat naik signifikan, mendorong ekspektasi ekonomi AS yang lebih solid. Kondisi ini membuat indeks dolar bergerak di level yang lebih tinggi, menambah tekanan pada rupiah.
"Rupiah diperkirakan akan terus melemah terhadap dolar AS,"kata Lukman Leong, analis pasar uang dari Doo Financial Futures. Ia menambahkan pasar masih mencermati sentimen eksternal yang dominan.
"Bank Indonesia (BI) kemungkinan akan melakukan intervensi secara agresif,"lanjut Lukman. Ia memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.950–Rp18.100 per dolar AS dalam waktu dekat.
Faktor domestik dan reaksi pasar
Selain faktor global, tekanan domestik turut memperburuk posisi rupiah. Analis dari Mirae Asset Sekuritas, Jessica Tasijawa, menyoroti masalah tata kelola lembaga negara dan sentimen korporasi sebagai pemicu.
"Ini di luar permintaan terhadap dolar secara musiman,"ujar Jessica, menggarisbawahi bahwa faktor lokal menjadi sumber utama pelemahan.
Jessica juga menyebut meningkatnya kekhawatiran terkait tata kelola Badan Gizi Nasional pascapergantian pimpinan. Ia menambahkan, "Demikian pula dengan outlook negatif Moody’s terhadap Danantara," yang turut menekan sentimen investor.
Pasar obligasi dan kebijakan BI
Di pasar surat utang, kondisi relatif bercampur. Imbal hasil Surat Berharga Negara tenor 10 tahun turun ke sekitar 6,7 persen. Sementara imbal hasil tenor dua tahun justru naik menjadi 6,82 persen, menunjukkan perbedaan ekspektasi antara jangka pendek dan panjang.
Bank Indonesia disebut menjaga daya tarik instrumen tenor pendek, termasuk Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Di sisi lain, spread antara obligasi pemerintah AS dan Indonesia meluas di atas 270 basis poin, menambah tekanan pada rupiah.
Dengan kombinasi sentimen eksternal yang kuat dan isu domestik yang belum mereda, rupiah diperkirakan masih akan bergerak rentan. Pergerakan selanjutnya akan bergantung pada respons kebijakan BI dan perkembangan data ekonomi global.
Berita Terkait
KAI Services Resmikan Mess Transit Frontliner di Surabaya
KAI Services meresmikan Mess Responsibility di Stasiun Surabaya Kota pada 12 Juni 2026 untuk hunian transit...
KAI Services Buka Kemitraan UMKM di Kampus IPB
KAI Services membuka kemitraan UMKM untuk masuk ke jaringan kereta; sosialisasi digelar 12 Juni 2026 di Kamp...
Penumpang Stasiun Cibadak Naik 6,46% Januari–Mei 2026
Penumpang Stasiun Cibadak naik 6,46% menjadi 74.281 pada Jan–Mei 2026, memperkuat peran kereta api dalam mob...
Perpanjangan Peron Stasiun Bogor Capai 62,31 Persen
Perpanjangan peron 6-8 Stasiun Bogor mencapai 62,31% per 12 Juni 2026 untuk menampung kereta 12 unit dan ant...
MIND ID Catat Pendapatan Rp159,46 T pada 2025, Hilirisasi Dorong Pertumbuhan
MIND ID raih pendapatan Rp159,46 triliun pada 2025; hilirisasi dan sinergi grup dorong laba dan kontribusi k...
Akhir Pekan: Rupiah Menguat 128 Poin ke Rp17.860
Rupiah ditutup menguat 128 poin ke Rp17.860 akhir pekan ini, terdorong meredanya risiko geopolitik dan senti...