Ekonomi

Rupiah Menguat ke Rp17.679, Didukung Meredanya Ketegangan AS–Iran

Bagikan:
Grafik kurs rupiah menguat terhadap dolar pada penutupan perdagangan

Jakarta, 3 September 2026 — Nilai tukar rupiah menguat hingga penutupan perdagangan pada Kamis, 3 September 2026, ke level Rp17.679 per dolar AS, atau naik 0,47 persen (84 poin). Penguatan ini didorong meredanya kekhawatiran geopolitik terkait ketegangan AS–Iran dan pelemahan indeks dolar AS.

Pasar bereaksi setelah pernyataan AS soal Iran

Pernyataan Presiden AS yang menilai kampanye baru terhadap Iran tidak akan berlangsung lama meredakan kekhawatiran pasar soal pasokan minyak dan potensi eskalasi konflik. Sentimen positif ini mendorong aliran modal kembali ke aset pasar negara berkembang, termasuk rupiah.

"Trump menyatakan bahwa kampanye baru AS terhadap Iran tidak akan berlangsung dalam jangka waktu lama. Pernyataan ini membantu meredakan sebagian kekhawatiran pasar mengenai pasokan minyak dalam waktu dekat,"

- Ibrahim Assuaibi, Analis Pasar Uang

Data tenaga kerja AS tekan dolar

Selain faktor geopolitik, data pasar tenaga kerja AS yang lebih lemah dari perkiraan turut menekan dolar AS. Laporan Automatic Data Processing (ADP) menunjukkan penambahan 38.000 pekerja di sektor swasta pada Agustus 2026, di bawah ekspektasi pasar sebesar 47.000 dan lebih rendah dari kenaikan bulan sebelumnya sebanyak 46.000.

"Jumlah itu di bawah perkiraan 47.000 dan lebih rendah dari angka kenaikan sebelumnya sebesar 46.000,"

- Ibrahim Assuaibi

Spekulasi kenaikan suku bunga The Fed

Meski data tenaga kerja melemah, pasar masih menilai kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed tetap nyata. Perangkat CME FedWatch memperlihatkan probabilitas kenaikan suku bunga pada rapat The Fed 15–16 September mencapai 64 persen, naik signifikan dari 36 persen pekan sebelumnya.

"Saat ini, pasar akan fokus pada data klaim pengangguran mingguan di AS dan data tenaga kerja non-pertanian. Data Institute for Supply Management Services Purchasing Managers' Index (ISM Services PMI) juga akan menjadi perhatian pasar,"

- Ibrahim Assuaibi

Dampak pelantikan Gubernur BI

Dari dalam negeri, pasar merespons positif pelantikan Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia. Pelaku pasar menilai kepemimpinan baru akan menjaga kebijakan moneter tetap responsif terhadap tantangan global dan domestik.

Menurut analis, Destry menegaskan komitmen BI menjaga stabilitas harga dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Kebijakan BI ke depan disebut akan berlandaskan prinsip impactful (berdampak), inklusif, dan integrasi.

Secara keseluruhan, kombinasi meredanya risiko geopolitik, data tenaga kerja AS, dan sentimen domestik terhadap kepemimpinan BI mendorong penguatan rupiah pada penutupan perdagangan hari ini.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait