BI Rate 5,75% Naik, Rupiah Tetap Melemah di Penutupan
Bank Indonesia menaikkan BI Rate menjadi 5,75%, namun nilai tukar rupiah tetap melemah pada penutupan perdagangan Kamis, 18 Juni 2026. Rupiah tercatat turun 0,18 persen atau 32 poin ke posisi Rp17.794 per dolar AS, meski kebijakan moneter diperketat untuk menjaga stabilitas.
Penutupan pasar dan angka terkini
Di akhir perdagangan, pelemahan rupiah tercatat meskipun bank sentral kembali meningkatkan suku bunga. Tekanan pasar menahan apresiasi mata uang domestik, sehingga dampak kenaikan BI Rate belum terlihat pada nilai tukar.
Mengapa pelaku pasar menahan diri
Analis pasar menyatakan investor bersikap wait-and-see menjelang dua keputusan penting dari MSCI. Kedua keputusan itu berkaitan dengan status pasar modal Indonesia dan pembekuan penambahan konstituen saham.
- Keputusan apakah Indonesia tetap diklasifikasikan sebagai emerging market.
- Keputusan pencabutan atau kelanjutan pembekuan konstituen baru akibat kekhawatiran struktur kepemilikan dan transparansi free float.
Ibrahim Assuaibi: Pasar Indonesia memang tengah mengalami tekanan dan volatilitas tinggi akibat sikap ‘wait and see’ pelaku pasar.
Keputusan BI dan tujuannya
Rapat Dewan Gubernur BI pada Juni memutuskan kenaikan BI Rate sebesar 26 basis poin menjadi 5,75%. Gubernur Perry Warjiyo menyatakan kenaikan ini untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dan bersifat pre-emptive dalam menjaga inflasi di kisaran target 2,5±1 persen untuk 2026–2027.
Pengaruh faktor eksternal
Faktor global turut mempengaruhi sentimen. Laporan menyebut penandatanganan nota kesepahaman antara AS dan Iran di Versailles membuka peluang meredanya ketegangan Timur Tengah dan pembukaan kembali jalur Selat Hormuz, sehingga pasar menanti realisasi kesepakatan lebih lanjut di Swiss.
Ibrahim Assuaibi: Perkembangan ini dapat meredakan ketegangan di Timur Tengah dan membuka kembali jalur utama Selat Hormuz.
Sementara itu, Bank Sentral AS (the Fed) mempertahankan kisaran suku bunga 3,5–3,75%. Komunikasi The Fed menunjukkan kebijakan moneter yang masih ketat, dengan sinyal kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan pada 2026.
Ibrahim Assuaibi: The Fed juga memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga tahun 2026. Ketua the Fed, Kevin Warsh menunjukkan sikap tegas terhadap inflasi.
Prospek ke depan
Rupiah cenderung tetap rentan dalam jangka pendek sampai keputusan MSCI dan perkembangan implementasi kesepakatan internasional konkret. Pelaku pasar kemungkinan akan terus menguji sentimen hingga ada kepastian kebijakan dan sinyal teknis lebih kuat yang mendukung pemulihan nilai tukar.
Berita Terkait
Industri MICE Gerakkan Banyak Sektor Ekonomi di DKI
Pemprov DKI menyatakan industri MICE memiliki efek berganda, menggerakkan banyak sektor usaha lewat konferen...
IHSG Ditutup Melemah ke 6.172,34 pada 18 Juni 2026
IHSG turun 48,4 poin ke 6.172,34 pada 18 Juni 2026; transaksi Rp17,38 triliun. Pasar menanti keputusan BI da...
BI Naikkan Suku Bunga Jadi 5,75% untuk Stabilkan Rupiah
BI menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,75% pada 18 Juni 2026 untuk stabilkan rupiah dan jaga inflasi 2026–2...
OJK Terbitkan Kebijakan Adaptif untuk Pengembangan PVML
OJK keluarkan kebijakan adaptif untuk mendukung pengembangan PVML, termasuk masa transisi BNPL hingga akhir...
PTGN Salurkan Gas untuk Komisioning Pabrik Kelapa Sawit GISMR
PT Pertagas Niaga menyalurkan gas untuk komisioning pabrik sawit GISMR di KEK Sei Mangkei guna mendukung uji...
Distribusi Batu Bara Kunci Stabilitas Listrik Nasional
PT Oktasan Baruna Persada perkuat operasional dan teknologi agar distribusi batu bara tepat waktu, kunci men...