Festival Bedhayan VI Ajak Anak Muda Temukan Keseimbangan
Festival Bedhayan VI digelar di Gedung Kesenian Jakarta pada Sabtu, 8 Agustus 2026, mengusung tema Memayu Hayuning Bawana. Acara menampilkan 16 kelompok tari dari berbagai daerah dan bertujuan memperkenalkan tari Bedhaya sekaligus menyampaikan pesan tentang pentingnya keseimbangan diri di era digital.
Pementasan dan peserta
Festival menghadirkan 16 kelompok tari dengan kekhasan koreografi dan filosofi masing-masing. Penampilan menampilkan ragam interpretasi Bedhaya yang memperlihatkan teknik dan nilai budaya berbeda. Sebagai penutup, panitia menghadirkan maestro tari dari Solo, yang seluruh penarinya laki-laki dan berpengalaman sejak dini.
Makna tema dan pesan festival
Ketua Umum Festival Bedhayan VI, Aylawati Sarwono, menyatakan tema menjadi pijakan untuk menjelaskan fungsi tari sebagai ruang refleksi dan ketenangan batin. Ia menekankan bahwa Bedhaya tidak hanya soal estetika gerak, tetapi juga pengalaman batin bagi penari dan penikmat.
Salah satu keistimewaan Festival Bedhayan VI tahun ini adalah kehadiran para maestro tari dari Solo yang akan tampil sebagai sajian penutup. Para penari yang seluruhnya laki-laki tersebut merupakan seniman profesional yang telah mendalami seni tari sejak usia dini,
Aylawati menambahkan bahwa keselarasan musik, gerak, dan napas dalam Bedhaya dapat melatih keseimbangan mind, body, and soul. Menurutnya, pesan itu kian relevan di tengah percepatan hidup dan pengaruh teknologi.
Mulai dari tarikan napasnya, semuanya itu harus selaras. Sehingga siapa pun yang berlatih tarian ini, kami harapkan bisa mendapatkan keseimbangan mind, body, and soul di tengah suasana hiruk-pikuk dunia yang sangat cepat berubah, terutama di era digital ini,
Perkembangan festival sejak 2021
Sejak pertama digagas pada 2021, Festival Bedhayan berkembang pesat. Dari awalnya berlangsung relatif sepi dan terasa mandiri, kini semakin banyak pihak yang mendukung dan terlibat. Perkembangan ini sesuai tujuan utama penyelenggara: memasyarakatkan tari tradisi Indonesia agar menjangkau khalayak luas.
Tujuan saya menyelenggarakan Festival Bedayan ini ya itu, memasyarakatkan sebuah tarian yang milik Indonesia sendiri, yang tidak kalah indah dan bisa memberikan keseimbangan mind, body, and soul,
Mengajak generasi muda untuk dekat dengan budaya
Pesan khusus disampaikan kepada anak muda yang mengalami tekanan dan kejenuhan. Aylawati mendorong generasi muda mencari sanggar tari di sekitar tempat tinggal dan mulai belajar Bedhaya sebagai alternatif untuk menemukan ketenangan.
Kalau mau healing karena kalian sudah jenuh dengan riuh rendah dunia ini, enggak usah pergi jauh-jauh ke mana-mana. Cari sanggar-sanggar tari di sekitar tempat tinggal kalian, belajarlah tari Bedhaya,
Penutup: budaya sebagai sumber keseimbangan
Festival Bedhayan VI menegaskan bahwa tari tradisi dapat menjadi sumber ketenangan dan keseimbangan tanpa harus mencari jauh. Di tengah perubahan sosial dan teknologi, Bedhaya menawarkan jalan sederhana: kembali mengenali budaya lokal untuk menemukan keseimbangan diri.
Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.
Berita Terkait
Benteng Vredeburg: Dari Benteng Kolonial Jadi Ruang Budaya
Benteng Vredeburg di Yogyakarta berubah dari benteng kolonial jadi museum dan ruang budaya sejak 1992, menam...
Merah Putih Menghias Kampung: Tradisi Gotong Royong Agustusan
Warga kampung memasang bendera, umbul-umbul, dan gapura menjelang HUT RI melalui gotong royong untuk menyema...
Kampung Tugu: Warisan Portugis yang Bertahan di Jakarta Utara
Kampung Tugu di Cilincing mempertahankan warisan Portugis sejak abad ke-17 lewat musik keroncong, bahasa kre...
Rengasdengklok: Golongan Tua vs Muda yang Mempercepat Proklamasi
Peristiwa Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945 menegaskan perbedaan antara golongan tua dan muda yang akhirny...
6 Agustus: Hiroshima, Apresiasi Petani, Sailor Moon, dan Hari Balon
6 Agustus 2026 menampilkan empat peringatan: Hiroshima, Hari Apresiasi Petani, Sailor Moon Day, dan Hari Bal...
Bu Dar Mortir, Patriot Perempuan Penopang Pejuang Surabaya 1945
Darijah "Bu Dar Mortir" mengelola dapur umum di Jalan Pacar Surabaya untuk mendukung pejuang saat Pertempura...