Gaya Hidup

Kemenkes: Deteksi H3N2 'Superflu' Lebih Rendah pada 2026

Bagikan:

Surabaya. Kementerian Kesehatan mencatat peningkatan aktivitas influenza nasional, tetapi deteksi H3N2 subclade K yang disebut "superflu" di media sosial justru lebih rendah pada 2026 dibanding 2025. Data sentinel pada minggu ke-38 tahun 2026 menunjukkan angka positivitas influenza 56%, namun secara nasional aktivitas influenza masih dikategorikan dalam tingkat sedang.

Data deteksi dan pemantauan

Kemenkes melaporkan penguatan sistem surveilans dan kesiapsiagaan untuk memantau perkembangan kasus. Jumlah deteksi H3N2 subclade K yang tercatat melalui surveilans sentinel dari 2025 hingga minggu ke-38 2026 mencapai 188 kasus.

Periode Jumlah Deteksi
2025 166
2026 (s.d. minggu ke-38) 22
Total 188

"Ada peningkatan kasus influenza, terutama di Indonesia dan Asia Tenggara. Tetapi berdasarkan data surveilans, situasinya masih dalam kategori sedang,"

Melalui jaringan sentinel yang melibatkan puskesmas, rumah sakit, laboratorium, dan pusat karantina kesehatan, kementerian terus memantau sebaran virus dan pola klinisnya.

Istilah 'superflu' tidak resmi

Istilah superflu yang beredar di publik bukanlah penamaan resmi dari World Health Organization atau CDC. Kemenkes meminta masyarakat membedakan antara istilah yang beredar di media sosial dan hasil pemeriksaan laboratorium maupun data surveilans.

"Untuk yang disebut 'superflu' atau H3N2 subclade K, data yang kami pantau menunjukkan jumlah deteksi tahun ini lebih rendah dibandingkan tahun lalu,"

Gejala, pencegahan, dan perbedaan dengan COVID-19

Dr. Martha Siahaan, Plt. Direktur Rumah Sakit Kementerian Kesehatan di Surabaya, menegaskan Influenza A dapat menyerang semua kelompok usia dan bersifat sangat menular. Orang dengan kondisi penyerta lebih berisiko mengalami komplikasi.

"Influenza A menyerang semua usia; virus ini sangat menular sehingga kita perlu memperkuat daya tahan tubuh,"

Gejala influenza dan COVID-19 dapat mirip, namun ada perbedaan tipikal: influenza sering diawali demam dan menggigil, sementara kehilangan penciuman atau perasa lebih khas pada COVID-19. Martha mengingatkan agar diagnosis tidak hanya berdasarkan gejala dan menganjurkan pemeriksaan medis bila bergejala.

  • Cukup istirahat
  • Makanan bergizi
  • Cukup cairan
  • Olahraga teratur

Penggunaan antiviral

Kemenkes menegaskan obat antiviral seperti oseltamivir tidak untuk semua pasien influenza. Penggunaan disarankan hanya untuk pasien dengan penyakit berat atau mereka yang memiliki komorbiditas yang membutuhkan terapi antiviral.

"Oseltamivir harus digunakan secara tepat dan selektif untuk pasien berat atau dengan komorbiditas,"

Pemakaian berlebihan berisiko mendorong resistensi obat dan membatasi opsi pengobatan jika terjadi lonjakan kasus yang lebih parah.

Kementerian terus memperkuat pemantauan dan edukasi publik untuk menekan penyebaran dan mengantisipasi perkembangan kasus influenza ke depan.

Putri Anindya
Penulis
Putri Anindya

Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.

Berita Terkait