Gaya Hidup

Merah Putih Bertanya: 750 Aktor Reenaksi Insiden Hotel Yamato

Bagikan:

Surabaya — Ratusan warga dan aktor menampilkan kembali insiden penurunan dan pengoyakan bendera Belanda di Hotel Yamato pada Sabtu, 19 September, lewat pertunjukan massal Merah Putih Bertanya. Sebanyak 750 pemeran berkumpul di Jalan Tunjungan, tepat di depan Hotel Majapahit (bekas Hotel Yamato), untuk merekonstruksi adegan ketika pejuang Indonesia menurunkan bendera Belanda, mengoyak bagian birunya, dan mengibarkan bendera merah-putih.

Rekonstruksi Insiden Hotel Yamato

Pentas gabungan teater, musik, dan koreografi massal itu berusaha menghadirkan suasana tegang Surabaya pada September 1945, beberapa minggu setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus. Drama berpuncak pada adegan penurunan bendera di hotel, yang menjadi simbol perlawanan lokal kepada upaya kembalinya kekuasaan kolonial.

Dalam pengulangan peristiwa, para pemeran memanjat bagian depan gedung, menurunkan bendera trikolor Belanda, mengoyak bagian biru, lalu mengangkat sisa merah-putih sebagai lambang nasional. Waktu dan tempat pertunjukan — di Jalan Tunjungan — membuat sejarah terasa lebih hidup bagi penonton.

Makna "Merah Putih Bertanya"

Direktur pementasan, Heri Lentho, mengatakan tujuan acara bukan sekadar menampilkan adegan bersejarah, melainkan memancing refleksi tentang makna kemerdekaan saat ini. Judul pementasan sengaja dibuat sebagai pertanyaan tentang apa yang diminta bendera merah-putih dari generasi sekarang.

"Merefleksikan insiden pengoyakan bendera 19 September 1945, kami mengangkat tema besar 'Merah Putih Bertanya.' Dalam kondisi sekarang, ketika mengisi makna kemerdekaan, apa kontribusi masing-masing orang?"

"Dalam mengisi kemerdekaan, apa yang membuat 'merah putih' terus menyala di hati setiap orang?"

Heri menegaskan bahwa pementasan menghubungkan pengorbanan generasi revolusioner dengan tanggung jawab warga negara saat ini. Tema itu memberi dimensi kontemporer pada aksi yang asalnya berakar di 1945.

Partisipasi dan respons publik

Pementasan menarik keterlibatan berbagai kalangan, termasuk Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi yang berperan sebagai Resident Sudirman dalam adegan perundingan dengan Mr. Ploegman dari pihak Belanda. Kehadiran pejabat mempererat hubungan antara pemerintahan kota dan memori kolektif masyarakat.

Penonton memadati Jalan Tunjungan yang disulap menjadi panggung terbuka. Bagi sebagian warga, seperti Lisa Kurniawati, pertunjukan berhasil membuat peristiwa yang sering dibaca di buku sejarah terasa nyata.

"Sangat bagus. Rasanya seperti kami dibawa kembali ke waktu ketika bendera Belanda diturunkan," kata Lisa. "Ini pertama kali saya menonton langsung; saya membawa anak supaya mereka juga belajar sejarah Surabaya."

Konteks sejarah dan warisan

Insiden di Hotel Yamato telah menjadi simbol penting dalam memori kolektif Surabaya, sebelum kota itu kemudian menjadi medan pertempuran besar pada November 1945. Dengan menempatkan kembali adegan di lokasi aslinya, Merah Putih Bertanya mengubah catatan sejarah menjadi pengalaman publik yang mengajak refleksi generasi kini.

Pesan pementasan tidak hanya mengenang perjuangan, tetapi juga menantang warga mempertimbangkan peran mereka dalam memaknai kemerdekaan hari ini.

Putri Anindya
Penulis
Putri Anindya

Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.

Berita Terkait