Kemenperin Perkuat Hilirisasi Agro, Rempah dan Sagu ke Pasar Global
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan Kementerian Perindustrian memperkuat hilirisasi industri agro untuk menembus pasar global. Pernyataan itu disampaikan di Jakarta, Jumat, 7 Agustus 2026, sebagai respons terhadap kebutuhan mengolah sumber daya alam menjadi produk bernilai tambah tinggi dan memenuhi standar internasional.
Bimtek Manajemen Ekspor sebagai langkah konkret
Direktorat Jenderal Industri Agro menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Manajemen Ekspor sebagai langkah nyata penguatan kapasitas. Kegiatan berlangsung 21-24 Juli 2026 di Jakarta dan diikuti 20 peserta dari 16 perusahaan.
Peserta berasal dari sektor yang memiliki potensi ekspor besar. Kemenperin bertujuan membekali pelaku industri dengan strategi ekspor yang terukur dan berbasis kebutuhan pasar.
Peserta dan fokus sektor
- Rempah
- Rumput laut
- Mikroalga
- Sagu
Keempat komoditas tersebut dipandang memiliki peluang pengembangan produk bernilai tambah untuk pasar internasional. Kemenperin mendorong pengolahan lebih lanjut agar produk mampu bersaing secara kualitas dan keberlanjutan.
Materi, metode, dan standar
Materi Bimtek meliputi market intelligence, quality assurance, dan food safety sesuai regulasi negara tujuan ekspor. Peserta juga diperkenalkan alat komunikasi keberlanjutan seperti Sustainability Company Profile dan Sustainability Pitch Deck.
Putu Juli Ardika, Plt. Dirjen Industri Agro, mengatakan penguatan akses pasar harus diikuti kesiapan industri membaca peluang dan memenuhi persyaratan eksportir.
"Penguatan akses pasar harus diikuti dengan kesiapan industri. Pelaku usaha perlu memiliki kemampuan membaca peluang pasar, memahami persyaratan negara tujuan ekspor, mampu menyampaikan keunggulan produknya," kata Putu Juli Ardika.
Pelaksanaan Bimtek mengombinasikan diskusi kelompok, sharing session pengalaman ekspor, studi kasus, dan lokakarya penyusunan materi promosi. Pendekatan ini dirancang agar peserta memperoleh pengetahuan serta dokumen strategi ekspor yang siap diterapkan.
Dinamika pasar dan tuntutan keberlanjutan
Agus menekankan perlunya standar mutu, keamanan pangan, dan komitmen terhadap praktik berkelanjutan untuk memenangkan persaingan global.
"Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang sangat besar. Tantangannya adalah bagaimana kekayaan tersebut diolah menjadi produk industri bernilai tambah tinggi dan berdaya saing di pasar global," ujar Agus Gumiwang Kartasasmita.
Menurutnya, pasar global makin kompetitif dan persyaratan semakin kompleks. Oleh karena itu, kemampuan teknik produksi harus dipadukan dengan strategi pasar dan komunikasi keberlanjutan.
Prospek dan harapan
Kemenperin optimistis penguatan kapasitas ini membuka peluang bagi produk berbasis rempah, rumput laut, mikroalga, dan sagu untuk memasuki lebih banyak pasar internasional. Tujuannya adalah meningkatkan nilai tambah produk dan membangun hubungan bisnis berkelanjutan dengan mitra luar negeri.
Kegiatan Bimtek diharapkan menjadi pemicu perluasan jejaring bisnis internasional serta peningkatan kualitas produk sehingga industri agro nasional lebih siap menghadapi tantangan ekspor di masa depan.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Cadangan Devisa Indonesia Turun Jadi USD145,3 Miliar Juli 2026
Cadangan devisa turun ke USD145,3 miliar per akhir Juli 2026 akibat penerbitan global bond dan intervensi st...
OJK: Efek Berbasis Keberlanjutan Rp85,15 T per Juni 2026
OJK mencatat efek berbasis keberlanjutan mencapai Rp85,15 triliun hingga Juni 2026; aset reksa dana ESG Rp8,...
Harga Emas Antam Terkoreksi Rp29.000 per Gram, Simak Daftarnya
Harga emas Antam turun Rp29.000 per gram pada Jumat, 7 Agustus 2026; 1 gram dihargai Rp2.650.000 dan buyback...
Manufaktur Lampaui Ekonomi, SBIN Percepat Industrialisasi
Industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,32% pada Q2 2026 dan melampaui ekonomi nasional; Menperin: SBIN percep...
Indonesia Susun Agenda Industri BRICS melalui PartNIR
Indonesia aktif menyusun Joint Declaration BRICS lewat PartNIR, mendorong inovasi industri, manufaktur hijau...
Pertumbuhan Triwulan II-2026: Indonesia Butuh Mesin Pertumbuhan Baru
Pertumbuhan triwulan II-2026 mencapai 5,29% namun melambat; politisi mendorong pergeseran dari konsumsi ke i...