Ekonomi

KAI Bangun Rumah Singgah Berarsitektur Limas di Sumatra

Bagikan:
Rumah singgah berarsitektur Rumah Limas KAI di Sumatra dengan atap limas dan elemen kayu

PT Kereta Api Indonesia (KAI) menyediakan rumah singgah berarsitektur Rumah Limas di wilayah Sumatra untuk mendukung petugas stasiun yang berdinas jauh. Pengumuman disampaikan melalui keterangan resmi pada Sabtu, 8 Agustus 2026. Fasilitas itu dimaksudkan sebagai tempat istirahat sementara ketika perjalanan pulang melewati kawasan sepi dan perkebunan.

Lokasi dan tujuan penyediaan

KAI menempatkan rumah singgah di beberapa titik operasional di dua divisi regional Sumatra. Tujuannya agar petugas yang menyelesaikan tugas malam hari memiliki pilihan tempat aman untuk beristirahat sebelum kembali ke rumah.

Wilayah penempatan mencakup Divre III Palembang dan Divre IV Tanjungkarang, meliputi beberapa stasiun dan titik lapangan sebagai berikut:

  • Divre III Palembang: Payakabung, Serdang, Karangenda, Gunungmegang, Muaragula, Muaralawai, Sukacinta, Simpang, Gelumbang, Penanggiran, Merapi.
  • Divre IV Tanjungkarang: Rengas, Tulungbuyut, Negeri Agung, Tanjungrajo, Waypisang, Sungai Tuha, Gilas, Lubukbatang.

Desain dan karakter arsitektur

Bangunan singgah mengusung bentuk atap limas khas tradisi Sumatra Selatan. KAI menekankan bangunan ditinggikan, teritisan lebar, ornamen geometris, kisi-kisi, dan elemen kayu untuk menyesuaikan karakter lokal.

"Sentuhan Rumah Limas membuat ruang istirahat pekerja memiliki kedekatan dengan daerah tempat mereka bertugas. Fungsinya mengikuti kebutuhan masa kini, sementara arsitekturnya membawa identitas lokal yang tetap terasa," ujar Anne Purba, Vice President Corporate Communication KAI.

Desain ini dirancang agar harmonis dengan iklim tropis dan lingkungan sekitar, termasuk kedekatan dengan aliran Sungai Musi di wilayah Palembang.

Data tenaga kerja dan penghargaan

Perusahaan mencatat total tenaga kerja KAI Induk mencapai 28.003 orang per Juni 2026. Dari jumlah itu, 20.446 pegawai atau sekitar 73 persen berada pada rentang usia 18 hingga 40 tahun.

KAI juga meraih peringkat kedua nasional pada Indonesias Best Employers 2026 dengan nilai 96,25. Pemeringkatan dilakukan oleh majalah yang bekerja sama dengan Statista, menilai budaya kerja hingga rekomendasi karyawan.

Dampak operasional dan prospek

Ketersediaan rumah singgah dipandang sebagai bagian dari peningkatan kualitas lingkungan kerja di lapangan. Fasilitas sederhana ini membantu menjaga kondisi fisik dan keselamatan petugas, terutama di titik stasiun terluar.

"Perjalanan kereta api dijaga oleh pekerja dengan kondisi tempat tugas yang sangat beragam. Bagi rekan-rekan yang berdinas jauh dari permukiman, ruang istirahat yang aman dan nyaman menjadi bagian penting dalam menjaga kondisi mereka," kata Wisnu Pramudya, Executive Vice President Corporate Secretary KAI.

Keberadaan rumah singgah berarsitektur lokal tidak hanya memenuhi kebutuhan istirahat operasional. Fasilitas itu juga memperkuat keterikatan identitas budaya setempat sambil menunjang kelancaran layanan angkutan kereta api di Sumatra.

Sarah Kurniawati
Penulis
Sarah Kurniawati

Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.

Berita Terkait