Ekonomi

Rupiah Anjlok ke Rp17.952 setelah Neraca Perdagangan Mei Defisit

Bagikan:
Grafik pergerakan rupiah turun ke Rp17.952 per Dolar AS setelah neraca perdagangan defisit

Rupiah kembali tertekan dan ditutup pada level Rp17.952 per Dolar AS pada penutupan perdagangan Rabu, 1 Juli 2026, setelah data neraca perdagangan Mei menunjukkan defisit. Pelemahan ini dipengaruhi oleh lonjakan impor migas, inflasi domestik, serta perkembangan data tenaga kerja AS yang memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter.

Penutupan pasar dan penyebab langsung

Nilai tukar rupiah turun 0,25 persen atau 45 poin pada penutupan perdagangan hari itu. Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menyatakan reaksi negatif pasar terutama dipicu rilis data neraca perdagangan oleh Badan Pusat Statistik.

Neraca perdagangan Mei 2026: defisit pertama dalam 6 tahun

Menurut data yang dikutip analis, neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 mencatat defisit sebesar USD 1,61 miliar. Ini menjadi defisit pertama setelah 72 bulan berturut-turut surplus. Ibrahim menyebutkan penyebab utama adalah lonjakan impor komoditas migas.

"Penyumbang utama defisit berasal dari impor komoditas migas yang meningkat 70,78 persen secara tahunan,"

Tekanan inflasi domestik

Faktor lain yang memperberat rupiah adalah kenaikan inflasi. Inflasi Juni 2026 tercatat naik tajam menjadi 0,44 persen secara bulanan dan 3,4 persen secara tahunan. Kenaikan terutama datang dari kelompok transportasi serta makanan, minuman, dan tembakau.

"Kenaikan inflasi sejalan dengan pergerakan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang meningkat. IHK pada Mei 2026 sebesar 108,27 naik menjadi 111,89 di bulan Juni,"

Faktor eksternal: data tenaga kerja AS dan ekspektasi The Fed

Dari sisi eksternal, Ibrahim menyoroti data ketenagakerjaan AS yang menjadi acuan kebijakan moneter The Fed. Laporan JOLTS (Job Openings and Labor Turnover Survey) menunjukkan lowongan kerja naik menjadi 7,5 juta pada Mei 2026, melampaui ekspektasi pasar 7,3 juta.

Selanjutnya, pelaku pasar menantikan data perubahan ketenagakerjaan dari ADP dan laporan tenaga kerja non-pertanian (NFP) yang direncanakan rilis pekan ini. Data tersebut berpotensi memberi petunjuk baru mengenai langkah suku bunga The Fed dan memengaruhi arus modal serta nilai tukar rupiah.

Implikasi dan prospek

Gabungan defisit dagang, inflasi yang meningkat, dan ketidakpastian eksternal menempatkan rupiah pada tekanan jangka pendek. Pasar akan terus memantau angka perdagangan, data inflasi, serta laporan ketenagakerjaan AS untuk sinyal kebijakan moneter selanjutnya.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait