IHSG Ditutup Menguat ke 5.695, Sentimen Doha dan Data Domestik Jadi Pendorong
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada Rabu, 1 Juli 2026. IHSG naik 51,92 poin (0,92%) ke level 5.695, setelah bergerak di zona hijau sepanjang hari seiring membaiknya sentimen regional dan perhatian pasar pada data ekonomi domestik.
Pergerakan dan Statistik Perdagangan
IHSG dibuka pada level 5.640, dan sepanjang sesi sempat menyentuh titik tertinggi di 5.737 serta terendah di 5.607. Aktivitas pasar tercatat cukup padat dengan volume perdagangan mencapai 18,25 miliar saham dan nilai transaksi sekitar Rp10,10 triliun.
- 378 saham menguat
- 248 saham melemah
- 157 saham stagnan
Sentimen Penggerak: Negosiasi AS-Iran dan Bursa Asia
Tim analis Pilarmas Investindo Sekuritas menilai penguatan IHSG didorong oleh perbaikan sentimen di bursa regional Asia dan harapan meredanya ketegangan geopolitik akibat pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran di Doha, Qatar.
"Pasar masih berharap proses negosiasi antara AS dan Iran mampu meredakan ketegangan geopolitik. Meski belum ada pertemuan langsung antara kedua pihak, optimisme terhadap kelanjutan dialog tetap menopang sentimen pasar," ujar Tim Pilarmas Investindo Sekuritas.
Pengaruh Kebijakan Moneter Global
Selain isu geopolitik, pelaku pasar juga memperhatikan arah kebijakan suku bunga The Fed. Menjelang rilis data ketenagakerjaan AS, ekspektasi kenaikan suku bunga kembali menguat dan membuat investor berhati-hati.
"Spekulasi kenaikan suku bunga The Fed masih menjadi faktor yang diperhitungkan pelaku pasar global. Kondisi tersebut membuat investor tetap berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi," tambah Tim Pilarmas.
Data Ekonomi Domestik yang Diamati
Dari dalam negeri, beberapa indikator ekonomi memberi warna bagi pergerakan pasar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Juni 2026 tercatat 0,44% secara month to month dan 3,34% y.o.y, mendekati target Bank Indonesia. Sementara itu, indeks manufaktur menunjukkan kontraksi dengan PMI turun menjadi 46,9 pada Juni dari 50,0 pada Mei.
Selain itu, neraca perdagangan Mei 2026 mencatat defisit sebesar US$1,61 miliar, yang menjadi defisit pertama dalam enam tahun dan menjadi perhatian bagi stabilitas ekonomi.
Prospek dan Implikasi
Tim Pilarmas memperkirakan Bank Indonesia akan tetap aktif menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan inflasi. Pasar diperkirakan bergerak fluktuatif sambil menunggu perkembangan negosiasi internasional dan data ekonomi berikutnya.
Secara garis besar, optimisme jangka pendek tetap ada karena perbaikan sentimen regional. Namun, risiko dari kebijakan moneter global dan indikator domestik yang lemah membuat investor harus selektif memilih sektor dan saham.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
BI Pertahankan Suku Bunga, Rupiah Menguat hingga Rp17.840
BI pertahankan suku bunga 5,75%; rupiah menguat 0,12% ke Rp17.840 per USD pada penutupan perdagangan Rabu, 1...
Secure Parking Kelola 1.700 Titik, Hampir 2 Juta Kendaraan Sehari
Secure Parking mengelola 1.700 titik parkir di Indonesia dan melayani hampir 2 juta kendaraan setiap hari, d...
BI Tahan Suku Bunga, IHSG Melemah 0,86% ke 6.394
IHSG turun 0,86% ke 6.394 pada 19 Agustus 2026 setelah BI mempertahankan suku bunga 5,75%; nilai transaksi R...
Pasokan Energi Jadi Prioritas Pertamina Pascagempa NTT
FKBI meminta pasokan BBM dan LPG jadi prioritas penanganan pascagempa NTT agar distribusi logistik dan aktiv...
IHSG Anjlok Jeda Siang, Investor Tunggu Keputusan Suku Bunga BI
IHSG melemah 0,60% pada jeda siang 19 Agustus 2026; investor menanti keputusan suku bunga BI dan terpengaruh...
IHSG Dibuka Melemah, Pasar Menanti Keputusan BI Rate
IHSG dibuka melemah 0,65% pada 19 Agustus 2026 saat pelaku pasar menunggu keputusan BI Rate dari Bank Indone...