Pemerintah Perkuat Kolaborasi untuk Ruang Aman Anak lewat HAN 2026
Pemerintah memperkuat kolaborasi lintas sektor untuk mewujudkan ruang aman dan nyaman bagi anak melalui Festival Hari Anak Nasional (HAN) 2026 di Jakarta, Selasa, 28 Juli 2026. Festival ini menjadi momentum penguatan komitmen lewat Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman untuk Anak (RANA).
Festival HAN 2026 dan penegasan RANA
Festival HAN 2026 dipakai sebagai wadah mempertegas peran berbagai pihak dalam melindungi anak. Pemerintah menekankan bahwa perlindungan anak bukan tugas tunggal institusi publik, melainkan tanggung jawab bersama.
Ruang aman bagi anak bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi seluruh elemen masyarakat. Anak harus tumbuh terlindungi, hidup sehat, berinteraksi positif, dan memanfaatkan teknologi secara bijaksana,
Pernyataan di atas disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, saat membuka festival. Menurutnya, sinergi antar-pemangku kepentingan diperlukan agar setiap anak bisa berkembang penuh.
Mengapa ruang aman penting
Ruang aman memastikan anak bebas dari kekerasan sekaligus memperoleh akses untuk belajar, bermain, dan berpartisipasi. Lingkungan yang sehat dan inklusif dinilai krusial untuk mengoptimalkan potensi anak.
Pratikno menegaskan pentingnya kondisi tersebut agar pertumbuhan fisik dan psikis anak terjaga. Ia juga menyoroti peran teknologi yang harus dimanfaatkan secara bijak oleh anak dan keluarga.
Peran lintas sektor
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifah Fauzi, menambahkan bahwa perlindungan anak harus melibatkan keluarga, sekolah, dunia usaha, media, dan masyarakat. Ia juga mengingatkan risiko di ruang digital serta fisik.
Anak Indonesia berhak tumbuh dalam lingkungan aman, nyaman, sehat, dan penuh kasih sayang, baik di ruang fisik maupun digital. Perlindungan anak membutuhkan kolaborasi seluruh pihak agar setiap anak tumbuh dan berkembang secara optimal,
Arifah merujuk data SNPHAR 2024 yang menunjukkan satu dari dua anak usia 13–17 tahun pernah mengalami sedikitnya satu bentuk kekerasan. Data ini menggarisbawahi urgensi langkah pencegahan dan penyediaan ruang aman bagi anak untuk didengar dan dilindungi.
Langkah ke depan
Pemerintah menyatakan akan terus memperkuat kebijakan dan kolaborasi lintas sektor untuk mencegah kekerasan dan meningkatkan akses anak pada layanan yang mendukung tumbuh kembang. Panggilan yang sama ditujukan kepada keluarga, sekolah, dunia usaha, dan media untuk bersinergi.
Festival HAN 2026 sekaligus menjadi pengingat bahwa upaya menciptakan ruang aman bagi anak memerlukan keterlibatan aktif semua pihak demi masa depan anak yang lebih baik.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
55 Korban Hilang, Basarnas Lanjutkan Operasi SAR KM Virgo
Basarnas melanjutkan operasi SAR KM Virgo pada hari ke-21 untuk mencari 55 korban hilang; operasi disesuaika...
Kalaksa BPBD Jatim: 90%+ Karhutla Dipicu Aktivitas Manusia
BPBD Jatim: lebih dari 90% karhutla dipicu aktivitas manusia; kelalaian kecil seperti puntung rokok bisa mem...
BPBD: Semua Titik Api Karhutla di Jatim Sudah Padam
BPBD Jawa Timur memastikan semua titik api karhutla telah padam, namun pemantauan titik panas melalui SiPong...
Pelestarian Batik: Wamenperin Dorong Perajin Ikuti Pasar
Wamenperin Faisol Riza mendorong pelestarian batik seiring penguatan perajin agar mampu mengikuti pasar, did...
Kemenkum Fasilitasi Mediasi Sengketa Merek ASICS
Kemenkum memfasilitasi mediasi ASICS vs Toko Istana Sepatu pada 3 Okt 2026 di Jakarta untuk menyelesaikan du...
Komdigi: Perlindungan Sisa Kuota Tak Boleh Dikenai Biaya
Kemkomdigi menegaskan sisa kuota pelanggan tidak boleh dikenai biaya, merujuk putusan MK; pemerintah akan ev...