Surabaya Pecat 2 PPPK DLH karena Pungli Retribusi Sampah Horeka
Surabaya — Pemkot Surabaya memberhentikan dua pegawai PPPK Paruh Waktu di Dinas Lingkungan Hidup setelah keduanya terbukti melakukan pungutan liar retribusi sampah terhadap pelaku usaha hotel, restoran, dan kafe. Keputusan pemberhentian diambil setelah laporan warga diterima melalui hotline Lapor Cak Eri pada Rabu (16/9/2026), yang menyebut adanya pungutan Rp300.000 per bulan tanpa kuitansi resmi.
Pemberhentian dan pemeriksaan internal
Kepala DLH Kota Surabaya M. Fikser memanggil kedua pegawai untuk klarifikasi. Dalam pemeriksaan internal, keduanya mengakui perbuatan yang tidak sesuai prosedur dan menyatakan siap menerima sanksi pemberhentian.
Setiap bulan pelaku usaha membayar Rp300 ribu, tetapi tidak pernah diberikan kuitansi meskipun sudah berulang kali diminta. Saya jawab, ini jelas-jelas pungutan liar.
Kronologi laporan dan temuan
Kasus bermula ketika seorang pelaku usaha di kawasan Jemursari melaporkan adanya pungutan retribusi sampah melalui hotline Pemkot. Pelaku usaha rutin menyerahkan uang kepada petugas DLH namun tidak pernah menerima bukti pembayaran resmi, meski berulang kali meminta kuitansi.
Menurut Fikser, pelaku usaha sebenarnya bersedia membayar retribusi secara resmi untuk masuk ke rekening Pemkot. Ia pun mengapresiasi keberanian warga melapor sehingga pelanggaran terungkap lebih cepat.
Aturan pengelolaan sampah sektor usaha
Pemkot menegaskan pengelolaan sampah dari sektor usaha memiliki mekanisme khusus. Pelaku usaha diwajibkan membawa sampah langsung ke Tempat Pemrosesan Akhir, dan dilarang membuang ke Tempat Pembuangan Sementara.
Jika pelaku usaha tidak mampu mengangkut sampah sendiri, pemerintah menyediakan opsi kerja sama dengan pihak ketiga yang diawasi DLH. Dalam skema ini, tarif retribusi dihitung resmi berdasarkan berat sampah dan pembayaran dilakukan melalui mekanisme yang dapat dipertanggungjawabkan.
Evaluasi personel dan langkah lanjutan
DLH melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh personel lapangan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Fikser menyatakan evaluasi tidak hanya menyorot petugas pengangkut sampah, tetapi juga petugas penyapuan dan staf lain yang menjalankan tugas di lapangan.
Saya berterima kasih kepada warga Surabaya yang berani melaporkan ini. Sebenarnya pelaku usaha horeka itu mau membayar retribusi dengan benar sesuai prosedur agar masuk ke rekening resmi pemerintah kota, ujar Fikser.
Implikasi dan pesan Pemkot
Pemkot menegaskan bahwa pelayanan publik harus berjalan sesuai prosedur dan setiap pembayaran kepada pemerintah wajib melalui mekanisme resmi. Laporan masyarakat menjadi salah satu pintu pengawasan untuk memastikan pelayanan di lapangan bebas dari praktik penyimpangan.
Kasus ini menjadi peringatan bahwa pengawasan internal dan partisipasi warga penting untuk menjaga akuntabilitas layanan publik dan memulihkan kepercayaan publik terhadap pengelolaan retribusi sampah.
Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.
Berita Terkait
Blitar Perkuat Nasionalisme dan Keterampilan Generasi Muda Lewat Soekarno Way
Pemkab Blitar dorong nasionalisme dan keterampilan generasi muda lewat talkshow Soekarno Way untuk siapkan p...
Hasto Ajak Mahasiswa Teladani Soekarno Way di Blitar
Hasto Kristiyanto mengajak mahasiswa meneladani Soekarno Way sebagai pedoman kepemimpinan berideologi dan be...
Soekarno Run Blitar 2026 Dorong Peran Anak Muda di Politik
Deni Wicaksono: partai harus beri ruang bagi generasi muda lewat kegiatan seperti Soekarno Run dan Soekarno...
Soekarno Run Blitar: Partai Diminta Buka Ruang untuk Anak Muda
Deni Wicaksono minta partai buka ruang bagi pemuda lewat Soekarno Run dan kegiatan olahraga di Blitar untuk...
PDI Perjuangan Salurkan Bantuan untuk Korban Bencana di Tempursari
PDI Perjuangan Lumajang menyalurkan bantuan untuk korban bencana di Tempursari pada 7 November 2026 sebagai...
PDI Perjuangan Jember Gunakan Nobar dan Buku untuk Pendidikan Politik
DPC PDI Perjuangan Jember menggabungkan nobar film dan pembagian buku untuk pendidikan politik yang merangku...