Warga Ngawi Pertahankan Tradisi Keduk Beji untuk Pelihara Sumber Air
Desa Tawun, Kecamatan Kasreman, Kabupaten Ngawi — Warga setempat kembali menggelar Keduk Beji, tradisi tahunan untuk merawat sumber air dan melestarikan warisan budaya. Kegiatan berlangsung di kawasan sumber air sekitar Taman Wisata Tawun sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan dan kebersamaan sosial.
Pelestarian sumber air dan adat turun-temurun
Tradisi yang digelar setahun sekali ini fokus pada pembersihan sendang di kawasan sumber air. Selain aspek lingkungan, kegiatan juga mengandung nilai-nilai adat yang diwariskan secara turun-temurun.
Secara prinsip, kegiatan ini juga untuk menjaga keseimbangan terhadap lingkungan hidup dan alam serta wujud syukur atas berkah dari sumber air tersebut yang memberikan kehidupan bagi masyarakat
Warga menjadikan momen ini untuk memperkuat gotong royong. Aktivitas fisik pembersihan diakhiri dengan upacara adat dan pembagian tumpeng yang dipercaya membawa berkah.
Dukungan pemerintah dan pengakuan wisata
Pemerintah Kabupaten Ngawi mendukung kegiatan melalui Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Dukungan itu diberikan untuk menjaga keberlanjutan kebudayaan dan memperkuat posisi tradisi sebagai daya tarik wisata.
Karena digelar di kawasan Taman Wisata Tawun, tradisi ini turut menambah nilai pada paket wisata budaya daerah. Menurut penyelenggara, tradisi tersebut telah diakui secara nasional dan menjadi bagian dari promosi pariwisata Kabupaten Ngawi.
Pasar Jadoel, pengunjung, dan dampak ekonomi
Selain Keduk Beji, kawasan ini juga rutin menggelar kegiatan budaya Pasar Jadoel setiap Ahad Legi. Acara ini menarik pengunjung tidak hanya dari Ngawi, tetapi juga dari daerah sekitar.
- Madiun
- Magetan
- Bojonegoro
- Solo
Jumlah pengunjung pada hari biasa berkisar antara 200 hingga 400 orang. Namun saat momentum Pasar Jadoel Ahad Legi dan pelaksanaan tradisi Keduk Beji, jumlah pengunjung dapat melonjak hingga sekitar 3.000 orang. Lonjakan ini berdampak positif pada aktivitas ekonomi lokal, terutama pelaku usaha mikro dan pedagang pasar.
Makna sosial dan prospek pelestarian
Pelaksanaan tradisi di lingkungan masyarakat mencerminkan semangat gotong royong dan kebersamaan. Warga menilai upaya ini penting untuk menjaga kerukunan sekaligus meneruskan identitas budaya kepada generasi muda.
Dengan dukungan pemerintah dan minat pengunjung yang tumbuh, tradisi seperti Keduk Beji berpotensi terus menjadi daya tarik wisata budaya sekaligus sarana konservasi sumber air di Ngawi.
Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.
Berita Terkait
KPU Pasuruan Kaji Penataan Dapil untuk Pemilu 2029
KPU Kabupaten Pasuruan mengkaji penataan dapil untuk Pemilu 2029 karena meningkatnya jumlah pemilih di beber...
IKS-PI Cup 3 Trenggalek: Pembinaan Pesilat Muda dan Cegah Tawuran
IKS-PI Cup 3 di Trenggalek (15/9/2026) menjadi arena pembinaan pesilat muda untuk meredam tawuran dan mendor...
Mulai 2027, Gaji P3K Ditanggung APBN dengan Alokasi Rp23 Triliun
Mulai 2027 gaji P3K ditanggung APBN dengan alokasi Rp23 triliun dalam RAPBN 2027 untuk menjamin kepastian pe...
Bupati Blitar Tegaskan Koordinasi dengan Umat Katolik
Bupati Rijanto terima audiensi Romo Djatmiko (15/9/2026) dan minta koordinasi berkelanjutan agar kegiatan um...
Surabaya Terapkan Bendera Hitam untuk PD Gagal Bina Kampung Pancasila
Wali Kota Surabaya beri sanksi bendera hitam bagi PD yang gagal membina Kampung Pancasila; bendera putih unt...
Amin Thohari Salurkan Bantuan Air di Kedungadem Bojonegoro
Amin Thohari salurkan bantuan air bersih di Kedungadem, Bojonegoro, sebagai respons krisis air akibat kemara...