Pemerintah Genjot PSEL Nasional, Target Operasi 2028
Pemerintah mempercepat pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) untuk menjawab krisis lingkungan. Pengumuman disampaikan Menko Pangan Zulkifli Hasan saat kunjungan kerja di Pontianak, Jumat 5 Juni 2026. Program ini menargetkan puluhan lokasi di kawasan perkotaan dan mulai beroperasi pada 2028 sesuai Perpres Nomor 109 Tahun 2025.
Rencana lokasi dan tahapan pembangunan
Pemerintah merencanakan pengembangan sekitar 30 lokasi PSEL di kota-kota produksi sampah tinggi. Dari jumlah itu, tiga lokasi akan segera memasuki tahap peletakan batu pertama. Sementara itu, 12 lokasi lain sedang diproses untuk pemilihan mitra pelaksana.
Penempatan fasilitas difokuskan di area perkotaan agar pengumpulan sampah lebih efisien dan potensi energi listrik optimal.
Data sampah nasional dan urgensi program
Menurut Zulkifli Hasan, Indonesia menghasilkan sekitar 60 juta ton sampah per tahun. Sebagian besar masih belum terkelola secara optimal, sehingga menjadi ancaman lingkungan dan pembangunan.
Dia menekankan bahwa sampah tidak hanya soal kebersihan kota, tetapi sudah masuk dalam isu ketahanan pangan dan dampak iklim.
"Sampah menjadi bagian dari tiga krisis lingkungan global. Dampaknya semakin kompleks terhadap kehidupan masyarakat," kata Zulkifli Hasan.
Manfaat PSEL dan teknologi pendukung
PSEL diharapkan mengurangi beban tempat pembuangan akhir dan menghasilkan listrik sebagai sumber energi terbarukan. Program ini juga ditujukan untuk menekan emisi karbon nasional.
Selain PSEL, pemerintah mendorong pengembangan teknologi pengolahan lain, antara lain:
- Refuse-Derived Fuel (RDF) yang mengubah sampah menjadi bahan bakar;
- komposting untuk sampah organik;
- TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu);
- pirolisis untuk pengolahan sampah anorganik menjadi produk bernilai.
Kebijakan, mandat, dan kolaborasi
Pelaksanaan PSEL berjalan sesuai mandat Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025. Pemerintah menyatakan akan memperkuat kebijakan pengelolaan sampah dan memperluas kerjasama dengan berbagai pihak.
"Pemerintah mengajak seluruh pihak memperkuat kolaborasi. Lingkungan yang terjaga penting bagi masa depan pangan Indonesia," ucap Zulkifli Hasan.
Langkah kolaboratif diperlukan antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, swasta, dan masyarakat untuk memastikan fasilitas beroperasi sesuai target dan memberikan manfaat lingkungan serta ekonomi.
Dengan target operasional 2028, fokus kini beralih pada percepatan proses lelang mitra, pembangunan infrastruktur, dan penguatan regulasi agar PSEL dapat mendukung transisi energi bersih dan pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Diduga Korsleting, 70 Rumah di Kampung Adat Sukabumi Terbakar
Kebakaran di Kampung Adat Kasepuhan Ciptamulya, 25 Juli 2026, meludeskan 70 rumah sehingga 420 warga kehilan...
Pemerintah Siapkan 2.000 Kampung Nelayan untuk Kesejahteraan
Pemerintah akan membangun 2.000 kampung nelayan mulai 2026, lengkap balai lelang, pabrik es, cold storage, d...
Pemerintah Percepat Program Makan Bergizi Gratis dalam Dua Tahap
Pemerintah percepat program Makan Bergizi Gratis dalam dua tahap: satu bulan fokus 3T dan pondok pesantren,...
Kemkomdigi Raih Predikat Kualitas Tertinggi Tanpa Maladministrasi
Kemkomdigi mendapat predikat kualitas tertinggi tanpa maladministrasi dari ORI untuk 2024–2025 dengan skor 8...
Wamenko: Ketahanan Pangan Kian Menguat, Stok Beras 5 Juta Ton
Pemerintah perkuat ketahanan pangan dengan cadangan beras 5 juta ton; stok dinilai cukup hadapi El Nino dan...
Pertagas Gelar Office Adventure Day Rayakan Hari Anak Nasional
Pertagas menggelar Office Adventure Day pada 25 Juli 2026, menghadirkan ruang bermain edukatif bagi 35 anak...