Prabowo Bercanda soal Jumhur: Dari Penjara hingga Jadi Menteri
Presiden Prabowo Subianto melontarkan candaan kepada Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat saat meresmikan Museum Ibu Marsinah dan rumah singgah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu, 16 Mei 2026. Candaan itu muncul saat Presiden memperkenalkan menteri-menteri Kabinet Merah Putih yang hadir, menyinggung pakaian dan riwayat aktivisme Jumhur.
Candaan saat perkenalan menteri
Ketika memperkenalkan Jumhur Hidayat, Presiden menyoroti pakaian yang dikenakan oleh menteri baru itu. Pernyataan ini memancing gelak tawa para hadirin dan mencairkan suasana acara.
"Menteri Lingkungan Hidup yang sekaligus adalah Ketua Umum Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia. Kok nggak pakai kaos buruh?"
Setelah itu, Presiden kembali berkelakar soal masa lalu aktivisme Jumhur yang pernah beberapa kali dipenjara ketika memperjuangkan gerakan buruh.
"Kapan terakhir dipenjara? Bolak-balik masuk penjara, sekarang jadi menteri," ujar Presiden sambil tersenyum.
Perjalanan Jumhur Hidayat
Jumhur Hidayat baru dilantik oleh Presiden Prabowo sebagai Menteri Lingkungan Hidup sisa masa jabatan 2024–2029 pada 27 April 2026. Ia menggantikan Hanif Faisol Nurofiq, yang kemudian diangkat sebagai Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan.
Pernyataan Presiden menyoroti transformasi perjalanan Jumhur dari aktivis buruh yang kerap berkonfrontasi dengan penegak hukum, menjadi pejabat pemerintah. Menteri dan mantan aktivis seperti Jumhur menunjukkan lintasan karier yang tak biasa dalam politik dan pemerintahan.
Peresmian Museum Ibu Marsinah
Peresmian Museum Ibu Marsinah di Nganjuk menjadi latar dari candaan itu. Museum ini diresmikan sebagai penghormatan terhadap perjuangan Marsinah, yang diposisikan sebagai simbol keberanian kaum buruh Indonesia.
Acara dihadiri oleh beragam pihak, termasuk:
- tokoh buruh
- pejabat pemerintahan
- pimpinan serikat pekerja nasional
Makna dan konteks
Selain menjadi momen ringan, candaan Presiden sekaligus menggarisbawahi pesan lebih luas bahwa pengalaman aktivisme tidak menutup peluang untuk mengabdi pada negara. Presiden menegaskan bahwa siapa pun bisa memiliki kesempatan untuk mengambil peran publik, termasuk di panggung kementerian.
"Kita nggak tahu, suatu saat dia di atas podium ini, kita nggak tahu," ujar Presiden tentang kemungkinan perubahan peran bagi individu dalam masyarakat.
Peristiwa ini menempatkan peresmian museum sebagai panggung pengakuan sejarah perjuangan buruh sekaligus refleksi atas dinamika karier politik dan administrasi publik di Indonesia.
Berita Terkait
MCB Luncurkan 'Rebahan di STOVIA' Ajak Milenial Rasakan Sejarah
Museum Kebangkitan Nasional luncurkan 'Rebahan di STOVIA' pada 20 Mei 2026, menawarkan pengalaman imersif as...
Polda Metro Jaya Tangkap 16 Pelaku Begal, Motif: Ekonomi & Narkoba
Polda Metro Jaya menangkap 16 pelaku begal (18–20 Mei 2026); motif utama ekonomi dan pembelian narkoba, bebe...
Alasan Ratusan Meriam Dipamerkan di Museum Kebangkitan Nasional
Kepala Museum jelaskan ratusan meriam Joseph L. Spartz dipamerkan di Museum Kebangkitan Nasional untuk menon...
PLN Resmikan SPKLU Tanjung Priok, Capai SPKLU ke-5.000
PLN meresmikan SPKLU Center di Tanjung Priok pada 21 Mei 2026, menandai SPKLU ke-5.000 dan memperkuat infras...
Harkitnas 2026: F-PKS Ajak Perkuat Kedaulatan dan Persatuan
F-PKS minta Harkitnas 2026 jadi momentum memperkuat persatuan dan kedaulatan, sambil mendorong kemandirian d...
Magang Nasional Batch 4 2026: Syarat, Target 150.000, dan Gaji
Kemnaker menargetkan 150.000 peserta Magang Nasional Batch 4 2026; simak syarat pendaftaran dan daftar uang...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!