Tips Perencanaan Keuangan di Tengah Tekanan Perekonomian
Manajemen keuangan pribadi perlu disusun sejak dini. Tae Yong Shim, Managing Director PT Samuel Tumbuh Bersama, memberi tips perencanaan keuangan berbasis siklus hidup pada acara Media Connect, Jumat, 7 Agustus 2026. Ia menyoroti tekanan dari inflasi, suku bunga, dan pajak yang dapat mengganggu tujuan keuangan jika tidak diantisipasi.
Kenali tantangan utama
Menurut Shim, tantangan tidak hanya berasal dari pasar global. Faktor sehari-hari seperti kenaikan harga dan aturan pajak juga memengaruhi rencana keuangan keluarga. Ia menyebut tiga elemen penting yang harus dipahami masyarakat.
"Tantangan itu antara lain inflasi, suku bunga dan pajak. Ketiganya menjadi tantangan utama dalam perencanaan keuangan yang harus dipahami masyarakat,"
Prinsip perencanaan berbasis siklus hidup
Shim menekankan pentingnya perencanaan yang mengikuti tahapan hidup. Mulai dari kebutuhan dasar, pendidikan, hingga pensiun. Perencanaan sejak awal bisa mengurangi risiko salah memilih produk keuangan.
"Jika tidak, risikonya bukan hanya salah memilih produk investasi, tetapi tidak melakukan apa pun untuk menyiapkan masa depan,"
Pengendalian pengeluaran dan waktu investasi
Dia menjelaskan kekayaan adalah hasil dari pendapatan dikurangi pengeluaran, lalu dikembangkan melalui investasi. Dalam hal ini, dua variabel yang relatif dapat dikendalikan adalah pengeluaran dan waktu investasi.
"Masyarakat tidak selalu dapat mengendalikan pendapatan maupun return pasar. Tapi pengeluaran dan waktu investasi merupakan dua hal yang lebih bisa dikendalikan,"
Shim menganjurkan prinsip sederhana: pahami kebutuhan, kendalikan pengeluaran, mulai berinvestasi sedini mungkin, dan siapkan proteksi. Ia menekankan waktu adalah aset penting dalam perencanaan.
Pandangan makro: kondisi ekonomi Indonesia
Fikrian Naufal dari Research Division Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai fundamental ekonomi domestik masih kuat meski tekanan global tinggi. Ia memaparkan beberapa indikator kunci yang mendukung daya tarik investasi di Indonesia.
"Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih di atas 5 persen, inflasi terkendali, dan rasio kredit bermasalah rendah di bawah ambang batas 5 persen,"
Fikrian juga membandingkan kondisi suku bunga saat ini dengan krisis 1998. Pada Juli 2026, suku bunga berada di level 5,75 persen, jauh di bawah puncak 60 persen saat krisis dulu.
"Kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang kuat merupakan faktor yang menjadi daya tarik investor,"
Implikasi dan langkah praktis
Di tengah ketidakpastian global, kombinasi literasi keuangan dan perencanaan jangka panjang menjadi penting. Rekomendasi praktis: susun anggaran, alokasikan dana darurat, mulai investasi bertahap, dan pertimbangkan proteksi asuransi. Langkah-langkah ini membantu menjaga stabilitas keuangan rumah tangga saat tekanan ekonomi meningkat.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Indonesia Dorong Pembiayaan UMKM dan Perkuat Kerja Sama BRICS
Indonesia mendorong perluasan pembiayaan UMKM dan penguatan rantai nilai melalui kerja sama BRICS, diusulkan...
Kemenperin Perkuat Hilirisasi Agro, Rempah dan Sagu ke Pasar Global
Kemenperin gelar Bimtek Manajemen Ekspor untuk hilirisasi agro; rempah, rumput laut, mikroalga, dan sagu dip...
Indonesia Perluas Sinergi BRICS untuk Pacu Transformasi Manufaktur
Indonesia perluas sinergi industri BRICS untuk percepat transformasi manufaktur lewat investasi, inovasi, da...
Kemenperin Percepat Industri Hijau untuk Pacu Ekonomi Sirkular
Kemenperin mempercepat transformasi industri hijau untuk mendukung ekonomi sirkular dan mencapai target Net...
Pengguna Whoosh Hemat Rp1,5 Juta dengan FWC JaBan Gold
KCIC luncurkan FWC JaBan Gold: kartu langganan Rp2 juta untuk 10 perjalanan, hemat hingga Rp1,5 juta dibandi...
Menaker: Kesenjangan Kompetensi Lulusan Harus Segera Diatasi
Menaker Yassierli minta penguatan pendidikan STEM dan kolaborasi untuk atasi mismatch kompetensi lulusan den...