Nasional

Ahli Tekstil Dorong Penguatan Industri TPT dari Sektor Hilir

Bagikan:

Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan penguatan industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional sebagai upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi, penyerapan tenaga kerja, dan ekspor. Instruksi itu disampaikan menjawab tekanan persaingan global dan tantangan domestik yang menghambat kebangkitan sektor.

Instruksi pemerintah dan peluang ekspansi

Pemerintah membuka peluang peningkatan produksi dan ekspansi industri. Kebijakan meliputi evaluasi aturan impor serta pertimbangan teknis untuk mendukung kebutuhan bahan baku dan mesin.

Langkah ini diharapkan memacu investasi dan mendorong peremajaan peralatan agar industri bisa bersaing di pasar global.

Kondisi industri dan tantangan saat ini

Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Tekstil Seluruh Indonesia (IKATSI), Rizal Tanzil Rakhman, menyatakan industri tekstil masih dalam kondisi bertahan. Tekanan global, masalah daya saing, serta maraknya impor ilegal menjadi hambatan utama.

"Kondisi industri tekstil masih pada mode bertahan karena ada beberapa tekanan membuat kita tumbuh, tetapi tidak terlalu progresif. Kondisi global, daya saing lokal, itu isu yang bisa menjadi penguat agar tumbuh cepat, tapi belum waktunya,"

Rizal menambahkan bahwa daya beli domestik belum setangguh 5-10 tahun lalu, sementara pasar ekspor menghadapi tantangan geopolitik dan kebutuhan membuka pasar nontradisional.

Fokus penguatan pada sektor hilir

Rizal mendorong langkah penguatan dimulai dari sektor hilir, khususnya industri garmen yang berorientasi ekspor. Menurutnya, perbaikan di hilir akan mendorong permintaan kain, benang, dan serat di hulu.

"Kalau industri garmen sehat, dia akan butuh banyak kain, kain banyak butuh benang yang banyak, dan seterusnya. Persoalannya bagaimana penguatan daya saing industri garmen sehingga mendorong ke tier 1, tier 2, dan seterusnya,"

Untuk itu, diperlukan perbaikan mesin, peningkatan sumber daya manusia, kepatuhan lingkungan, dan standar produksi agar terintegrasi dalam rantai pasok global.

Rekomendasi kebijakan dan langkah teknis

Rizal menekankan perlu pemetaan persoalan per segmen industri. Sektor hulu (fiber), tengah (benang dan kain), dan hilir (garmen) memiliki karakteristik berbeda sehingga kebijakan harus spesifik.

Pemerintah juga diharapkan menertibkan impor tekstil ilegal dan menerapkan kebijakan perlindungan yang selektif. Program restrukturisasi mesin sudah ada, namun diperlukan percepatan melalui riset, teknologi, dan penggunaan energi terbarukan.

Data kontribusi dan dampak ekonomi

Industri TPT tercatat memberikan kontribusi sekitar 0,97% terhadap PDB. Sektor ini menyerap sekitar 4 juta pekerja dan mencatatkan ekspor sekitar 12 miliar dolar AS. Penguatan di hilir diharapkan bisa meningkatkan nilai tambah dan membuka peluang ekspor baru.

Dengan pemetaan sektoral, penertiban impor ilegal, dan dukungan teknis, pelaku industri berharap TPT nasional tidak hanya bertahan, tetapi berkembang menjadi rantai pasok yang kompetitif di pasar global.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait