Proyek Panas Bumi Pertamina Berpeluang Tarik Pendanaan Global
PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) berpotensi menarik pendanaan internasional untuk pengembangan proyek panas bumi Indonesia. Pengamat pasar modal Dipo Satria Ramli mengatakan hal itu saat dikonfirmasi di Jakarta, Rabu, 17 Juni 2026. Ia menilai kesiapan proyek, kepastian offtaker, dan dukungan infrastruktur menjadi faktor utama yang meningkatkan minat investor global.
Proyek PGE yang masuk perhatian investor
Dipo menyebut ada tiga proyek PGE yang masuk Green Book 2026 Bappenas dan berpeluang mendapat dukungan pendanaan luar negeri. Proyek itu meliputi PLTP Lumut Balai Unit 3 dan 4, serta PLTP Lahendong Unit 7–8. Menurutnya, portofolio proyek yang matang memberi keunggulan kompetitif bagi PGE dalam menarik modal jangka panjang.
Daya tarik bagi investor global
Minat modal asing pada energi bersih meningkat, terutama dari investor yang fokus pada clean energy. Dipo menjelaskan bahwa tipe investor tersebut cenderung mencari proyek dengan prospek jelas dan risiko yang terukur.
"Memang ada beberapa tipe investor niche tertentu yang hanya fokus pada clean energy. Jadi, proyek-proyek panas bumi dengan prospek yang jelas akan sangat menarik bagi mereka,"
Selain itu, struktur kontrak penjualan listrik menjadi nilai tambah. Pembayaran dari PLN kepada proyek geothermal menggunakan denominasi dolar AS, sehingga meminimalkan risiko nilai tukar bagi investor.
"Pembayaran revenue dari PLN untuk geothermal dilakukan dalam mata uang dolar AS. Jadi walaupun rupiah mengalami pelemahan, tetap menarik karena tidak ada currency risk atau risiko nilai tukar yang signifikan,"
Kriteria utama pendanaan
Dipo merinci beberapa kriteria yang membuat proyek lebih mudah mendapat pembiayaan. Kesiapan proyek (ready-to-build), kepastian offtaker, infrastruktur pendukung, dan peta jalan pengembangan menjadi penentu. Proyek dengan elemen-elemen ini lebih mungkin memenuhi persyaratan lembaga keuangan internasional.
Dampak kebijakan dan prospek ke depan
Sebagai negara dengan potensi panas bumi terbesar kedua di dunia, Indonesia berada pada posisi strategis untuk menarik investasi hijau. Pengembangan panas bumi juga tercantum sebagai prioritas dalam RUPTL PLN 2025–2034 untuk meningkatkan kapasitas energi baru terbarukan dan ketahanan energi nasional.
Dipo menambahkan bahwa kebutuhan investasi untuk mendukung transisi energi global akan terus meningkat dalam beberapa dekade mendatang. Kondisi ini membuka peluang besar bagi proyek panas bumi Indonesia untuk menjadi magnet pendanaan global bila mampu mempertahankan kesiapan teknis dan kepastian bisnis.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Mendagri Koordinasi Percepatan Penanganan Dampak Gempa NTT
Mendagri Tito Karnavian terus koordinasi percepatan penanganan gempa NTT, fokus evakuasi, listrik, dan distr...
Mendagri Waspadai Gempa Susulan di NTT, Penanganan Dimulai di Pelabuhan
Mendagri Tito Karnavian mengingatkan potensi gempa susulan di NTT; Kementerian PU akan asesmen kerusakan di...
Seskab: 253 Ton Bantuan Logistik Telah Dikirim ke NTT
Seskab Teddy menyatakan pemerintah telah mengirimkan 253 ton bantuan logistik ke NTT; lima pesawat berangkat...
BMKG: 2.768 Gempa Susulan Guncang Flores Setelah M7,7
BMKG mencatat 2.768 gempa susulan setelah gempa M7,7 di Flores hingga 19 Agustus 2026; terbesar M6,2, 81 kej...
KPK: Korupsi Tak Selalu Berbentuk Uang, Bisa Lewat Kebijakan
KPK mengingatkan korupsi tak selalu berbentuk uang; kebijakan yang dimanipulasi bisa merugikan publik dan li...
KPK Kaitkan Korupsi Kebijakan dengan Kerusakan Hutan Kalimantan
KPK menyebut korupsi kebijakan ikut memicu kerusakan hutan Kalimantan; isu ini diangkat dalam Youth Camp 202...