Pertamina Pastikan Pasokan LPG Nasional dari Tanjung Sekong
PT Pertamina (Persero) memastikan keandalan pasokan Liquefied Petroleum Gas (LPG) nasional dari Terminal LPG Tanjung Sekong di Cilegon, Banten. Pernyataan itu disampaikan Komisaris Utama Pertamina, Mochamad Iriawan, pada Jumat, 31 Juli 2026. Terminal ini menyalurkan sekitar 35–40 persen kebutuhan LPG Indonesia dan menjadi titik penting distribusi energi untuk rumah tangga, UMKM, dan industri.
Terminal Tanjung Sekong sebagai penyangga pasokan
Terminal LPG Tanjung Sekong berstatus Objek Vital Nasional dan menjadi hub penyimpanan terbesar di Tanah Air. Fasilitas ini memasok LPG ke 63 kabupaten dan kota, mencakup wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Sumatera Selatan. Keberadaan terminal dimaknai sebagai penopang ketahanan energi nasional.
Tiga fokus utama Pertamina
Dalam kunjungan ke terminal, Iriawan menegaskan tiga fokus yang harus dipegang teguh oleh seluruh pekerja Pertamina. Ketiga fokus itu ditujukan untuk menjaga keselamatan, mengurangi emisi, dan meningkatkan efisiensi rantai pasok.
- HSSE tanpa kompromi — penerapan budaya Health, Safety, Security, and Environment secara konsisten. Seluruh pekerja diminta patuh pada prosedur keselamatan dan berani menerapkan Stop Work Authority (SWA) bila ada potensi bahaya.
- Dekarbonisasi — percepatan integrasi energi terbarukan. Terminal diminta menjajaki kerja sama dengan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk untuk pemanfaatan hidrogen hijau berbasis panas bumi sebagai sumber energi operasional.
- Digitalisasi dan efisiensi rantai pasok — pemantauan stok secara real-time dan percepatan proses tambat kapal kargo. Langkah ini bertujuan mencegah gangguan distribusi dan potensi kelangkaan LPG.
"LPG memastikan dapur-dapur rumah tangga para ibu terus mengepul, UMKM terus berproduksi menggerakkan ekonomi lokal, dan industri nasional memiliki kepastian pasokan energi. Tanpa kerja keras di sini, denyut aktivitas ribuan masyarakat bisa terhenti,"
Demikian kata Iriawan saat memberi keterangan dari Jakarta. Ia juga mengutip arahan Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, terkait pentingnya SWA dan disiplin keselamatan kerja.
Dampak operasional dan layanan
Peningkatan digitalisasi dan standar operasional menjadi bagian dari komitmen Pertamina untuk memastikan pasokan LPG yang andal dan merata. Sistem monitoring real-time diharapkan mempercepat respons terhadap fluktuasi stok dan gangguan distribusi.
Konteks ke depan
Pertamina menempatkan Terminal Tanjung Sekong sebagai salah satu titik kunci dalam strategi ketahanan energi nasional. Perpaduan praktik HSSE, dekarbonisasi, dan digitalisasi dipandang penting untuk mempertahankan layanan sambil mendukung tujuan lingkungan. Ke depan, kerja sama antar unit usaha dan penerapan teknologi baru akan menentukan kesinambungan pasokan LPG bagi masyarakat dan industri.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
KPAI Minta Pengawasan Ketat untuk Program MBG 3B
KPAI mendesak pengawasan ketat pada Program MBG 3B agar makanan untuk bumil, busui, dan balita aman, bermutu...
Pemerintah Targetkan Revisi UU LLAJ Rampung 2026
Pemerintah menyerahkan 1.200 DIM RUU LLAJ ke DPR dan menargetkan revisi diselesaikan pada 2026 agar dapat di...
Kemensos Buka Kanal WhatsApp untuk Pengaduan Sekolah Rakyat
Kemensos membuka kanal WhatsApp 0887-7171-171 pada 29 Sept 2026 untuk pengaduan Sekolah Rakyat, terbuka bagi...
Indonesia Jajaki Pengalaman India untuk Bangun Infrastruktur Publik Digital
Indonesia menjajaki pengalaman India membangun infrastruktur publik digital untuk integrasi layanan, kata Wa...
Kemacetan Pelabuhan Ketapang: ODOL, Demo, dan Solusi Bersama
Kemacetan di akses Pelabuhan Ketapang disebabkan ODOL, antrean Pelindo, dan demonstrasi; solusinya butuh pen...
Kemenbud Usulkan Tari Zapin ke UNESCO untuk Perkuat Pelestarian
Kementerian Kebudayaan mengusulkan Tari Zapin ke UNESCO (29 Sept 2026) untuk memperkuat pelestarian lintas g...