Kemenkum: Pancasila Pulihkan Kepercayaan Sosial dan Martabat
Kementerian HukumPancasila relevan untuk memulihkan kepercayaan sosial dan martabat manusia di tengah krisis nilai global. Pernyataan disampaikan Wakil Menteri Hukum Edward Omar Sharif pada Webinar Internasional Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) menjelang Hari Lahir Pancasila, Sabtu, 30 Mei 2026, di Jakarta.
Krisis nilai global dan urgensi pemulihan
Wamenkum Edward menyebutkan laporan UNESCO 2021 menunjukkan gejala melemahnya nilai sosial di banyak negara. Menurutnya, fenomena itu mengancam keberlangsungan hidup bermasyarakat jika tidak segera ditangani.
"Normalisasi kekerasan, ketidaksetaraan, dan hilangnya rasa hormat menjadi ancaman nyata keberlangsungan hidup bermasyarakat,"
Ia menekankan pemulihan hanya mungkin bila kepercayaan sosial diperkuat melalui pengakuan terhadap martabat setiap manusia.
"Kepercayaan sosial hanya bisa berakar pada pengakuan yang tulus terhadap martabat manusia,"
Pancasila sebagai jembatan nilai
Edward menyatakan Pancasila berperan sebagai penghubung antara human dignity dan social trust. Pancasila, menurutnya, menyediakan kerangka etika untuk membangun kembali rasa saling percaya antarwarga.
"Pancasila hadir sebagai jembatan emas yang mempertemukan human dignity dan social trust,"
Program literasi dan capaian
Untuk menerjemahkan nilai itu ke praktik, Kemenkum melalui BPSDM Hukum bekerja sama dengan Institut Leimena menjalankan program Literasi Keagamaan Lintas Budaya. Program ini difokuskan pada internalisasi nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari masyarakat dan aparatur sipil negara (ASN).
- Program telah menjangkau sekitar 11.000 guru dan ASN.
- Targetnya memperkuat pemahaman nilai Pancasila di lingkungan pendidikan dan birokrasi.
Peran diplomasi dan gotong royong
Kepala BPSDM Hukum Kemenkum RI Gusti Ayu Putu Suwardani menilai pengalaman Indonesia menjaga keberagaman menjadi modal untuk menawarkan praktik harmoni sosial di panggung global.
"Pancasila menjadi fondasi kebijakan luar negeri Indonesia bebas aktif sebagai pedoman diplomasi universal menjembatani perbedaan. Sila-sila Pancasila berperan menghentikan konflik dan memperkuat perdamaian dalam hubungan internasional,"
Direktur Eksekutif Institut Leimena Matius Ho menyoroti nilai gotong royong sebagai inti Pancasila. Ia menyebut konsep itu relevan untuk meredam polarisasi dan ketegangan sosial yang meningkat.
"Jika Pancasila diperas menjadi satu sila, maka jadilah gotong royong sebagai inti kepribadian bangsa Indonesia,"
Matius juga mengutip pandangan Soekarno bahwa negara harus berdiri di atas semangat gotong royong sebagai dasar kebersamaan.
Implikasi dan langkah ke depan
Pernyataan Kemenkum mempertegas peran Pancasila bukan sekadar simbol, tetapi sebagai pedoman untuk membangun kembali kepercayaan sosial yang rapuh. Ke depan, proses internalisasi nilai melalui pendidikan dan pelatihan ASN menjadi kunci agar Pancasila dapat diterapkan secara nyata dalam kebijakan dan praktik sosial.
Berita Terkait
Makna Lambang Garuda Pancasila, Simbol Kekuatan Bangsa
Lambang Garuda Pancasila merefleksikan nilai kebangsaan melalui unsur seperti sayap, perisai, warna, pita, d...
Majelis Etik Desak Evaluasi Rekrutmen Pimpinan Ombudsman
Majelis Etik Ombudsman mendesak evaluasi rekrutmen pimpinan setelah kasus dugaan korupsi Hery Susanto; panse...
Pancasila Jadi Kompas Moral Bangsa, Tekanan BPSDM Hukum
Kepala BPSDM Hukum: Pancasila harus menjadi kompas moral bangsa dan pedoman kebijakan untuk menjaga persatua...
Mensos Minta Sekolah Rakyat Siap Hadapi Sekolah Permanen
Mensos Saifullah Yusuf minta pengelola Sekolah Rakyat bersiap operasional sekolah permanen yang mulai dipaka...
Keberagaman Jadi Kekuatan, Pancasila Diminta Perkuat Persatuan
Pancasila ditegaskan sebagai pondasi pemersatu bangsa; toleransi disebut DNA Indonesia dan kepercayaan sosia...
Wamenkum: Pancasila Fondasi Kepercayaan Sosial Bangsa
Wamenkum Edward Hiariej minta penguatan kepercayaan sosial lewat Pancasila untuk merawat martabat manusia da...