MK: Operator Dilarang Hanguskan Kuota Pelanggan
Jakarta. Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan pada Kamis bahwa operator telekomunikasi tidak boleh menghapus kuota data pelanggan yang belum terpakai dan wajib menyediakan mekanisme agar pelanggan prabayar maupun pascabayar dapat terus menggunakan kuota yang sudah dibayar.
Inti putusan dan alasannya
Putusan ini mengabulkan uji materiil yang diajukan oleh konsumen yang menilai praktik penetapan masa kedaluwarsa kuota oleh operator menciptakan ketidakpastian hukum. Menurut MK, biaya layanan harus proporsional dengan manfaat yang dinikmati pelanggan, termasuk perlindungan atas kuota yang belum terpakai.
"Penyelenggara telekomunikasi harus memastikan bahwa biaya layanan sebanding dengan manfaat yang diterima pelanggan, termasuk perlindungan kuota internet yang telah dibeli namun belum digunakan,"
- Ketua Hakim Suhartoyo
Pilihan perlindungan yang diwajibkan bagi pelanggan
MK menetapkan bahwa operator wajib menyediakan opsi bagi pelanggan untuk mempertahankan kuota yang belum terpakai. Pilihan yang disebutkan antara lain:
- Rollover atau pengakumulasian kuota ke periode berikutnya
- Perpanjangan masa berlaku kuota
- Transfer manfaat ke nomor lain
- Kompensasi atau pengembalian dana
- Mechanisme perlindungan konsumen lain yang sepadan
"Kuota yang tidak terpakai harus tetap dilindungi sebagai milik pengguna telekomunikasi atau tetap tersedia untuk digunakan hingga habis tanpa biaya tambahan,"
- Hakim Adies Kadir
Instruksi kepada Pemerintah dan lembaga terkait
Selain mewajibkan operator, MK meminta pemerintah menyusun kerangka penetapan tarif telekomunikasi yang mengikuti perkembangan teknologi, model bisnis, dan kebutuhan konsumen. Putusan juga meminta keterlibatan lembaga perlindungan konsumen serta pemangku kepentingan lain saat melakukan penyesuaian tarif di masa mendatang.
Penggugat dan implikasi ke depan
Uji materiil diajukan oleh Didi Supandi, pengemudi layanan ride-hailing, dan Wahyu Triana Sari, pedagang makanan daring. Mereka menilai regulasi yang ada memberi wewenang unilateral kepada operator untuk menentukan masa berlaku kuota, sehingga menimbulkan ketidakpastian bagi konsumen.
Putusan ini berimplikasi luas: operator harus memperbarui kebijakan produk dan sistem penagihan, sementara pemerintah dan badan perlindungan konsumen perlu merumuskan aturan teknis dan mekanisme pengawasan agar perlindungan terhadap kuota pelanggan menjadi nyata dan terukur.
Editor teknologi yang mengulas gadget, kecerdasan buatan, startup, dan inovasi digital.
Berita Terkait
SWITCH 2026: Singapura Dorong Perusahaan Siapkan Pekerja Hadapi AI
SWITCH 2026 dibuka di Marina Bay Sands; pemerintah Singapura mengimbau perusahaan menyiapkan pekerja menghad...
ITSEC Asia Gandeng SGCI Bawa Keamanan Siber ke Pantai Gading
ITSEC Asia menggandeng SGCI menyediakan layanan keamanan siber berkelanjutan bagi institusi publik dan infra...
Bali Tech Week 2026 Targetkan 5.000 Peserta untuk Tarik Investasi Digital
Bali Tech Week 2026 digelar 19–23 Okt di Sanur, Bali, menargetkan 5.000 peserta dari 37 negara untuk menarik...
Perusahaan RI Risau Kehilangan Manfaat AI jika Hanya Jalankan Pilot
Perusahaan Indonesia berisiko kehilangan manfaat produktivitas AI jika hanya menjalankan pilot; butuh pelati...
Adopsi AI Melonjak, Ancaman Kebocoran dan Kedaulatan Data
Adopsi AI di Indonesia meningkat pesat, namun risiko kebocoran data dan kedaulatan informasi menguat akibat...
Gerhana Matahari Total 2027: Siang Terbenam 6 Menit di Luxor
Gerhana Matahari Total 2 Agustus 2027 akan menggelapkan siang hingga 6 menit di beberapa wilayah daratan, te...