Nasional

Orangutan Sempurna Mati, BKSDA Sebut Dugaan Paparan Asap

Bagikan:
Orangutan jantan Sempurna ditemukan lemah di perkebunan Ketapang; evakuasi oleh BKSDA dan YIARI

Orangutan jantan dewasa bernama Sempurna ditemukan lemah dan meninggal di Kabupaten Ketapang. Nekropsi BKSDA Kalimantan Barat pada 1 September 2026 menemukan perubahan patologis terutama pada paru-paru, yang diduga berkaitan dengan paparan asap karhutla.

Kronologi penemuan dan evakuasi

Sempurna pertama kali ditemukan masyarakat di Dusun Sempurna, Desa Kuala Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang. Saat ditemukan, ia berada di dalam parit kering di area perkebunan kelapa sawit milik warga dan dalam kondisi sangat lemah.

Tim BKSDA Kalimantan Barat bersama Yayasan International Animal Rescue Indonesia (YIARI) melakukan evakuasi. Pertolongan pertama diberikan sebelum Sempurna dibawa ke pusat rehabilitasi YIARI untuk penanganan medis.

Sempat terjadi penurunan kondisi hingga tim medis melakukan upaya resusitasi jantung-paru atau cardiopulmonary resuscitation (CPR), namun usaha itu tidak berhasil. Sempurna dinyatakan meninggal pada pukul 15.20 WIB.

Hasil nekropsi dan temuan medis

Nekropsi yang dilakukan pada 1 September 2026 menunjukkan perubahan patologis pada beberapa organ. Temuan utama berada pada paru-paru, dengan kongesti dan atelektasis parsial terutama pada bagian kaudoventral kedua lobus paru-paru.

Selain paru-paru, pemeriksaan juga mencatat gangguan pada jantung dan ginjal. Perubahan pada paru-paru diduga menyebabkan hipoksia akut atau kekurangan oksigen yang kemudian berkontribusi pada gangguan fungsi kardiovaskular.

Dugaan penyebab: paparan asap

Berdasarkan riwayat klinis, lokasi penemuan, dan hasil pemeriksaan, BKSDA Kalimantan Barat menduga paparan asap dari kebakaran hutan dan lahan menjadi salah satu faktor yang berkontribusi.

"Pemeriksaan lebih lanjut dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan. Juga faktor yang diduga berkontribusi terhadap kematiannya," kata Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat Murlan Dameria Pane, Kamis, 3 September 2026.

"Nekropsi yang dilakukan pada 1 September 2026 menemukan kongesti dan atelektasis parsial pada paru-paru. Terutama pada bagian kaudoventral kedua lobus paru-paru," tambahnya.

Imbauan dan tindak lanjut

BKSDA Kalimantan Barat mengapresiasi peran masyarakat yang segera melapor sehingga evakuasi dapat dilakukan cepat. Namun, instansi itu mengimbau warga untuk tidak menangani sendiri satwa liar yang sakit, terluka, atau terdampak karhutla.

Pemeriksaan lanjutan berlangsung untuk memastikan faktor penyebab kematian dan untuk menyusun langkah pencegahan agar kasus serupa tidak terulang. Temuan ini juga menegaskan risiko kesehatan satwa liar akibat paparan asap pada masa kebakaran hutan dan lahan.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait