MUI Waspadai Belajar Agama Lewat AI Tanpa Bimbingan Guru
Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengingatkan masyarakat agar tidak semata-mata mempelajari ilmu agama melalui teknologi artificial intelligence tanpa pendampingan guru atau ulama kompeten. Peringatan itu disampaikan pada Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) ke-8 di Jakarta, Jumat 24 Juli 2026, sebagai respons terhadap pesatnya digitalisasi informasi keagamaan.
Ancaman belajar agama lewat AI tanpa guru
Wakil Ketua Umum MUI, KH Muhammad Cholil Nafis, menekankan bahwa teknologi seperti AI bisa menjadi sumber inspirasi, namun tidak layak dijadikan satu-satunya rujukan dalam mempelajari agama. Menurutnya, tanpa bimbingan manusia yang berkompeten, konsumen informasi berisiko menerima ajaran yang keliru atau terdistorsi.
Konsep jihad digital
Untuk menghadapi tantangan tersebut, MUI mencanangkan konsep jihad digital sebagai langkah strategis. Inisiatif ini bertujuan memastikan ruang-ruang siber terisi dengan konten keagamaan yang benar, bertanggung jawab, dan bermartabat.
Peran sanad dan ulama
Cholil mengingatkan pentingnya transmisi keilmuan yang berlandaskan sanad, yakni rantai ilmiah yang menjamin orisinalitas dan validitas pengetahuan. Ia menyebutkan bahwa media digital sering kali memuat informasi yang campuran antara benar dan salah, sehingga perlu verifikasi dari ulama atau guru yang mumpuni.
Belajar agama itu butuh transmisi keilmuan yang disebut dengan sanad. Ada yang menjamin bahwa itu benar, orisinal, dan valid. Sementara dari media itu sering kita lihat mungkin sebagian benar, tapi sebagian salah
Berguru harus kepada orang, kepada ulama, kepada ustadz yang memang mumpuni dan memang menjadi teladan. Tidak bisa berguru hanya kepada mesin
Kerja sama dengan akademisi untuk dakwah digital
Ketua Umum MUI, Anwar Iskandar, mengatakan kemajuan teknologi memberi manfaat besar namun juga risiko yang perlu diantisipasi. Ia mendorong umat Islam agar tidak pasif; ruang digital harus diisi pesan moral dan dakwah yang membangun.
Kita ingin agar digitalisasi di negara ini, sebesar-besarnya akan kita isi dengan dakwah untuk membangun bangsa yang sebaik-baiknya
Untuk mewujudkan itu, MUI telah menjalin kerja sama dengan kalangan akademisi, termasuk universitas, untuk menghasilkan konten dakwah yang kredibel dan bermartabat. Anwar menilai kolaborasi ini penting menjelang semakin luasnya kebutuhan masyarakat terhadap solusi berbasis AI.
Implikasi dan langkah ke depan
Pesaing informasi di ranah digital menuntut literasi keagamaan dan digital yang lebih baik. MUI mengajak umat untuk menguatkan peran ulama, memperkuat sanad keilmuan, dan aktif menciptakan konten dakwah yang bertanggung jawab. Upaya ini diharap mengurangi risiko kesalahpahaman dan penyebaran ajaran yang tidak berdasarkan sumber terpercaya.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
BPBD: Semua Titik Api Karhutla di Jatim Sudah Padam
BPBD Jawa Timur memastikan semua titik api karhutla telah padam, namun pemantauan titik panas melalui SiPong...
Pelestarian Batik: Wamenperin Dorong Perajin Ikuti Pasar
Wamenperin Faisol Riza mendorong pelestarian batik seiring penguatan perajin agar mampu mengikuti pasar, did...
Kemenkum Fasilitasi Mediasi Sengketa Merek ASICS
Kemenkum memfasilitasi mediasi ASICS vs Toko Istana Sepatu pada 3 Okt 2026 di Jakarta untuk menyelesaikan du...
Komdigi: Perlindungan Sisa Kuota Tak Boleh Dikenai Biaya
Kemkomdigi menegaskan sisa kuota pelanggan tidak boleh dikenai biaya, merujuk putusan MK; pemerintah akan ev...
PBNU Terbitkan Pedoman Hari Santri 2026, Solidaritas untuk Palestina
PBNU keluarkan pedoman Hari Santri 2026 berfokus pada tradisi, layanan masyarakat, dan solidaritas kemanusia...
Terapi Seni Bantu Pulihkan Trauma Anak, Ini Cara dan Perannya
Seni atau art terapi dinilai efektif bantu pulihkan trauma anak melalui ekspresi kreatif, lingkungan aman, d...