Menhut Tinjau Penanganan Karhutla di Ogan Ilir, Sumsel
Menteri Kehutanan Raja Antoni meninjau penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Ibul Besar 1, Kecamatan Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, Senin, 31 Agustus 2026. Pemeriksaan dilakukan bersama Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto dan Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru untuk menilai upaya pemadaman dan kesiapan operasi lanjutan.
Kondisi lapangan dan metode pemadaman
Asap akibat karhutla terlihat jelas dari ruas Tol Kapal Betung KM 366 saat rombongan meninjau lokasi. Di udara, pemadaman berlangsung melalui water bombing, sementara di darat petugas melakukan upaya pemadaman langsung.
Tim yang dikerahkan di darat antara lain Manggala Agni Daops Sumatra XIV-Banyuasin, unsur TNI-Polri, dan BNPB. Langkah koordinasi ini dimaksudkan untuk mempercepat proses pendinginan titik api dan mencegah meluasnya kebakaran.
Upaya Operasi Modifikasi Cuaca (OMC)
Sebelumnya dalam rapat koordinasi penanganan karhutla di Palembang, Raja Antoni meminta agar peluang Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dimaksimalkan sebagai bagian dari strategi penanggulangan.
"Karena bagaimanapun yang paling efektif ini memang OMC, Operasi Modifikasi Cuaca. Dimanapun ada potensi awan dimaksimalkan,"
Permintaan tersebut didorong oleh laporan BMKG yang menyebutkan Sumatra Selatan berpotensi memiliki titik awan sampai 3 September. Oleh karena itu, Kementerian Kehutanan mendorong pelaksanaan OMC bila kondisi mendukung.
Kesiapan fasilitas dan personel
Untuk mendukung upaya di lapangan, Raja Antoni menginstruksikan agar operasional bandara tetap dibuka dari pagi sampai malam. Kebijakan ini bertujuan agar proses OMC dan aktivitas air bombing dapat dilakukan kapanpun ada peluang awan.
Kementerian juga memperkuat dukungan personel melalui penyediaan BKO sekitar 1.000 personel lebih. Penambahan ini dimaksudkan untuk membantu tugas pendukung lapangan dan mengantisipasi kelelahan pasukan yang bertugas.
Prognosis dan langkah berikutnya
Peninjauan langsung di Ogan Ilir menegaskan pendekatan terpadu antara udara, darat, dan teknologi cuaca. Koordinasi lintas lembaga tetap menjadi fokus utama untuk mengendalikan titik api dan meminimalkan dampak terhadap warga dan lingkungan.
Ke depan, pihak terkait akan terus memantau perkembangan cuaca dan efektivitas OMC, serta menyesuaikan penempatan personel dan sumber daya bila diperlukan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Hari Kelima SAR: Jeriken Ditemukan di Selat Sunda, Delapan Orang Masih Hilang
Tim SAR menemukan jeriken biru di Selat Sunda pada hari kelima pencarian, namun delapan orang yang hilang ma...
Karhutla Jabar Bakar 325,87 Ha, 215.424 KK Terdampak Kekeringan
BPBD Jabar catat 193 kejadian karhutla seluas 325,87 ha; 215.424 KK terdampak kekeringan. Distribusi 17,69 j...
Kementerian PKP Percepat Bedah Rumah, 434 Unit Dialokasikan di Menteng
Kementerian PKP mempercepat Program Bedah Rumah di Menteng dengan alokasi 434 unit; persyaratan dipermudah d...
Pompanisasi PHTC Selamatkan Lahan Padi di Cirebon dari Puso
Pompa hibrida PHTC di Cirebon keluarkan 36.000 liter/jam, cegah gagal panen akibat kekeringan dan embung boc...
Pertamina Patra Niaga Pastikan Harga BBM Subsidi Stabil hingga 2026
Pertamina Patra Niaga menegaskan harga BBM subsidi tidak naik hingga akhir 2026 sesuai arahan pemerintah, me...
MenPPPA Dorong Perempuan Desa Kembangkan Usaha Produktif
MenPPPA mendorong perempuan desa mengubah keterampilan jadi usaha produktif lewat RBI untuk tingkatkan keman...