Luhut Dorong OJK Percepat Reformasi Pasar Modal
Jakarta, 18 Mei 2026 — Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mendesak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkuat dan mempercepat reformasi pasar modal. Ia menilai langkah ini penting untuk menjaga stabilitas sektor keuangan di tengah tekanan global dan domestik serta untuk mendorong kembalinya arus modal asing ke Indonesia.
Desakan percepatan implementasi kebijakan
DEN meminta percepatan implementasi reformasi pasar modal sebagai jawaban atas keraguan pelaku pasar. Konsistensi kebijakan dinilai krusial untuk membangun kembali kepercayaan investor.
Menurut Luhut, pemerintah dan regulator perlu menunjukkan langkah yang komprehensif dan kredibel agar aliran modal asing kembali masuk. DEN menyatakan akan memberikan dukungan penuh untuk proses tersebut.
"Ini adalah momentum yang tidak boleh dilewatkan untuk melakukan reformasi pasar modal secara komprehensif dan kredibel. DEN akan mendukung penuh OJK dalam mengawal proses ini," kata Luhut di Jakarta.
Fokus pada tata kelola dan pengawasan risiko
Luhut menegaskan kondisi sektor perbankan nasional saat ini relatif stabil, namun masih memerlukan penguatan tata kelola dan pengawasan risiko. Hal ini penting agar dukungan pembiayaan terhadap program pemerintah tidak menimbulkan kerentanan baru.
DEN juga mendorong OJK untuk memperkuat inovasi kebijakan di sektor keuangan. Inovasi dianggap perlu untuk menyesuaikan regulasi dengan dinamika pasar dan teknologi keuangan yang berkembang.
Sorotan pada BPR dan masalah kredit bermasalah
Den memberikan perhatian khusus pada sektor BPR karena ada tren kenaikan rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL). Peningkatan NPL di BPR berpotensi menimbulkan risiko sistemik jika tidak ditangani lebih awal.
Pihaknya menilai restrukturisasi dan penguatan kelembagaan BPR harus dilakukan secara lebih menyeluruh. Langkah itu dianggap perlu untuk mencegah potensi kerentanan di masa mendatang.
Koordinasi lebih erat antara DEN dan OJK
DEN dan OJK sepakat membangun mekanisme koordinasi yang lebih erat. Kedua lembaga akan memantau perkembangan nilai tukar rupiah, kondisi pasar keuangan, dan persepsi investor secara berkala.
"Di tengah tekanan global dan domestik yang masih tinggi, koordinasi adalah kunci. Pertemuan reguler antara DEN and OJK akan kita rutinkan sebagai forum untuk saling bertukar pandangan," ujar Luhut.
Dengan langkah koordinatif dan percepatan reformasi, pemerintah berharap stabilitas pasar keuangan dapat terjaga dan kepercayaan investor kembali pulih. DEN menyatakan komitmennya untuk mendukung OJK dalam rangka implementasi kebijakan yang lebih konsisten dan transparan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
IHSG Diproyeksi Menguat Didukung Sentimen Domestik dan Global
IHSG diperkirakan menguat pada 18 Agustus 2026, didukung sentimen domestik dari RAPBN dan harga komoditas, n...
PLN Amankan Kelistrikan Upacara HUT ke-81 dengan Sistem Lima Lapis
PLN menyiagakan sistem pengamanan kelistrikan lima lapis dan ratusan personel untuk mengamankan Upacara HUT...
KAI Perbarui Situs kai.id, Dikunjungi 49,4 Juta Pengunjung
KAI meluncurkan tampilan baru situs kai.id pada 17 Agustus 2026; situs telah dikunjungi 49,4 juta pengunjung...
BI Luncurkan Kartu Kredit Indonesia dan Perluas MDR QRIS
Bank Indonesia meluncurkan Kartu Kredit Indonesia (KKI) pada 17 Agustus 2026 dan memperluas MDR QRIS nol per...
DPR: Target Lifting Minyak 610 Ribu Barel per Hari Realistis
Bambang Patijaya mengatakan target lifting minyak 610 ribu bph dan gas 950 ribu bph setara minyak pada RAPBN...
Tarif Rp8 KAI: 27.620 Tiket Diskon Terjual pada 17 Agustus
KAI memberlakukan tarif Rp8 untuk LRT Jabodebek dan sebagian Commuter Line pada 17 Agustus; 27.620 tiket dis...