Ekonomi

Rupiah Melemah ke Rp17.670, DPR Minta BI Jelaskan Stabilitas

Bagikan:
Ilustrasi rupiah melemah dan gedung Bank Indonesia

Wakil Ketua Komisi XI DPR RI Hanif Dhakiri mendesak Bank Indonesia memberi penjelasan komprehensif kepada publik terkait pernyataan bahwa stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga, menyusul pelemahan rupiah ke Rp17.670 per dolar AS. Pernyataan itu disampaikan dalam keterangan pers di Jakarta, Selasa, 19 Mei 2026, untuk merespons pertanyaan atas faktor eksternal dan persepsi pasar terhadap fundamental domestik.

Permintaan penjelasan ke Bank Indonesia

Hanif mengatakan pernyataan BI tentang stabilitas rupiah masih menimbulkan kebingungan di publik. Ia meminta otoritas moneter memaparkan makna "stabil" secara rinci, apakah maksudnya volatilitas yang masih terkendali meski level kurs menyesuaikan.

"Apakah yang dimaksud stabil adalah volatilitas yang masih terkendali, meskipun level kurs mengalami penyesuaian? Penjelasan ini penting agar komunikasi kebijakan lebih mudah dipahami masyarakat,"

Menurut Hanif, keterbukaan komunikasi dari BI penting untuk menjaga kepercayaan publik dan pasar. Penjelasan rinci dinilai dapat membantu masyarakat memahami arah dan tujuan kebijakan stabilisasi.

Detail permintaan: volatilitas dan perbandingan internasional

Hanif mendorong BI menjelaskan strategi stabilisasi yang sedang dijalankan dan efektivitas instrumen yang dipakai untuk meredam tekanan pasar. Ia juga meminta data perbandingan volatilitas rupiah dengan negara-negara setara.

"Kita perlu mendapatkan gambaran jelas, langkah stabilisasi apa yang sedang ditempuh, bagaimana efektivitasnya. Dan, sejauh mana instrumen yang digunakan mampu meredam tekanan yang ada,"

Ia menilai perbandingan dengan negara peers akan memberi konteks lebih utuh bagi publik terkait posisi rupiah dan respons kebijakan yang diambil.

"Kalau ukuran stabilitas adalah volatilitas, maka menarik untuk melihat bagaimana posisi rupiah dibandingkan negara peers. Dengan begitu, publik bisa mendapatkan konteks yang lebih utuh mengenai kondisi kita saat ini dan respons kebijakan yang diambil,"

Koordinasi kebijakan fiskal dan moneter

Selain itu, Hanif menekankan pentingnya sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal. Ia meminta koordinasi yang kuat agar stabilitas ekonomi tidak menjadi beban tunggal otoritas moneter.

"Kita ingin memastikan koordinasi kebijakan berjalan solid, stabilitas ekonomi tidak hanya menjadi tanggung jawab otoritas moneter. Tetapi, membutuhkan sinergi yang kuat dengan kebijakan fiskal dan langkah-langkah lain untuk menjaga kepercayaan pasar serta daya tahan ekonomi nasional,"

Respons pemerintah dan BI

Pemerintah dan BI sebelumnya menyatakan pelemahan rupiah lebih didorong sentimen jangka pendek dan faktor musiman, bukan melemahnya fundamental ekonomi domestik.

"Nanti kita perbaiki pelemahan rupiah. Sekarang fondasi ekonominya bagus, ini hanya masalah sentimen jangka pendek. Saya fokus menjaga fondasi ekonomi dengan memastikan pertumbuhan ekonomi tidak terganggu, kami juga akan masuk ke pasar obligasi,"

Demikian disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat menilai tekanan belum perlu disikapi berlebihan.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo juga mengatakan penguatan dolar terhadap rupiah utamanya dipicu faktor demand yang bersifat musiman. Ia menyebutkan beberapa faktor yang memicu kebutuhan valas meningkat:

  • Kebutuhan valuta asing untuk musim haji
  • Pembayaran dividen perusahaan
  • Kewajiban pembayaran utang luar negeri

"Penguatan dolar AS ini terjadi karena faktor demand, biasanya untuk kebutuhan jemaah haji, pembayaran dividen, dan pembayaran utang,"

Dengan kondisi global yang masih tidak pasti, permintaan clarifikasi dari DPR diarahkan agar kebijakan terkomunikasikan dengan jelas dan koordinasi antarpemangku kepentingan diperkuat untuk menjaga stabilitas dan kepercayaan pasar.

J
Penulis
John Doe

No bio yet 😊

Berita Terkait

Komentar (0)

Komentar akan ditinjau sebelum ditampilkan.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!