Lapas Meulaboh Ubah Lahan Kosong Jadi Sentra Ketahanan Pangan
ACEH BARAT — Lapas Kelas IIB Meulaboh mengubah lahan kosong menjadi kebun produktif untuk mendukung ketahanan pangan nasional sambil memberdayakan warga binaan. Kegiatan ini melibatkan petugas dan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) secara langsung dan selaras dengan program Asta Cita Presiden serta 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan.
Jenis tanaman dan pengelolaan
Beragam tanaman pangan ditanam di lahan Lapas Meulaboh. Di antaranya jagung, terong, labu, kangkung, cabai, tomat, kacang tanah, serta buah seperti pepaya dan mangga. Pengelolaan lahan dilakukan secara kolektif oleh WBP dengan pengawasan dan pembinaan petugas Lapas.
- Tanaman pangan: jagung, kangkung, cabai, tomat, kacang tanah
- Buah-buahan: pepaya, mangga
- Sayuran lain: terong, labu
Tujuan: pembinaan dan ketahanan pangan
Kepala Lapas Meulaboh, Tendi Kustendi, menyatakan program ini memiliki tujuan ganda: mendukung kebijakan makro pemerintah dan memperkuat pembinaan di internal lembaga. Program bertani diberlakukan sebagai sarana transfer keterampilan bagi WBP agar siap mandiri secara ekonomi setelah selesai menjalani pidana.
Kami membekali warga binaan dengan keterampilan bertani agar mereka memiliki kemampuan diri yang kuat, sehingga kelak siap hidup mandiri secara ekonomi setelah menyelesaikan masa pidananya.
Tendi menekankan bahwa inisiatif ini bagian dari transformasi lembaga pemasyarakatan menjadi ruang pembinaan yang produktif dan humanis. Menurutnya, Lapas tidak lagi sekadar tempat hukuman, melainkan juga pusat pelatihan yang mengubah stigma negatif di masyarakat.
Pemanfaatan hasil dan aturan pengelolaan
Pengelolaan hasil panen berjalan profesional sesuai regulasi. Sebagian hasil disalurkan kembali untuk kebutuhan internal, sementara sisanya dipasarkan ke pegawai Lapas dan masyarakat umum. Mekanisme penjualan digunakan untuk memberikan penghargaan berupa premi atau upah kepada WBP yang aktif terlibat.
Sekitar 5 persen dari hasil produksi diserap untuk kebutuhan makanan warga binaan, sedangkan sisa produksi dipasarkan dan hasilnya dialokasikan sebagai premi bagi warga binaan yang bekerja aktif.
Manfaat program dan prospek
Selain kontribusi terhadap ketahanan pangan daerah, kegiatan pertanian ini memberi dampak pembinaan: mengisi waktu secara produktif, melatih keterampilan kerja, dan menciptakan lingkungan Lapas yang lebih hijau, bersih, dan sehat. Pihak Lapas berharap program ini memperbesar peluang reintegrasi sosial WBP setelah masa pidana selesai.
Kesimpulannya, inisiatif pertanian Lapas Meulaboh memperlihatkan langkah konkret lembaga pemasyarakatan dalam mendukung kebijakan nasional sekaligus menguatkan pemberdayaan warga binaan melalui keterampilan yang bernilai ekonomi.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Rico Waas: Pelantikan ICMI Muda Medan Harus Jadi Aksi Nyata
Wali Kota Medan Rico Waas minta ICMI Muda Medan yang baru dilantik langsung bergerak dengan roadmap kerja da...
Tapanuli Highlands Festival 2026: Pulau Sibandang Tampil sebagai Destinasi Sport Tourism
Pulau Sibandang dan Muara dipromosikan lewat Tapanuli Highlands Festival 2026; 65 peserta mengikuti lomba re...
Kejati Aceh Gelar Seleksi Jabatan Eselon III.b dengan Sistem Merit
Kejati Aceh menggelar seleksi Jabatan Eselon III.b pada 2 Oktober 2026 menggunakan sistem merit untuk menjar...
Polsek Gunung Malela Tangkap Dua Pengedar Sabu di Siantar
Polsek Gunung Malela menangkap MD (45) dan AID (27) di Siantar, 30/9, serta menyita sabu dan barang bukti la...
Puluhan Remaja Masjid Al Ikhlas Gelar Tadabbur Alam di Medan
Puluhan remaja Masjid Al Ikhlas mengadakan Tadabbur Alam di Medan Selayang untuk mempererat ukhuwah dan meng...
Rico Waas Janji Tangani Banjir dan Tambah 10.000 CCTV di Medan
Wali Kota Medan Rico Waas janji solusi banjir di Kelurahan Beringin, rencanakan drainase, parit, pembersihan...