Azril: Kenaikan Wisman Belum Cerminkan Kualitas Pariwisata Nasional
Prof. Azril Azahari, pengamat pariwisata dari Universitas Trisakti dan Ketua Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI), menilai bahwa lonjakan kunjungan wisatawan mancanegara pada 18 Juli 2026 belum sepenuhnya mencerminkan kualitas pariwisata nasional. Menurutnya, capaian jumlah wisman perlu dibandingkan dengan indikator lain agar kemajuan sektor ini dapat diukur secara komprehensif.
Indikator yang harus dilihat, bukan hanya jumlah wisman
Azril mengingatkan pemerintah dan pemangku kepentingan agar tidak menjadikan jumlah kunjungan dan devisa sebagai ukuran tunggal keberhasilan. Ia menekankan perlunya pengukuran yang mencakup lama tinggal, besaran pengeluaran wisatawan, kontribusi terhadap PDB, dan penciptaan lapangan kerja.
"Jangan hanya melihat jumlah wisatawan dan devisa. Tetapi ukur juga kontribusi terhadap PDB serta multiplier effect,"
Menurutnya, penilaian yang lebih luas akan memberi gambaran nyata tentang manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat di daerah tujuan wisata.
Pentingnya pengukuran berbasis ilmiah
Azril menyatakan bahwa perhitungan dampak ekonomi pariwisata selama ini belum dilakukan secara komprehensif. Untuk itu, ia mendorong penyusunan kerangka evaluasi yang komparabel dan dapat diuji secara ilmiah.
"Multiplier effect harus dihitung secara ilmiah. Sehingga klaim pariwisata sebagai motor ekonomi benar-benar memiliki dasar kuat,"
Dia juga menekankan perlunya data yang bisa dibandingkan antarwilayah dan antarnegara, sehingga kebijakan pengembangan dapat dirancang berdasarkan bukti.
Keselamatan, mitigasi risiko, dan evaluasi destinasi prioritas
Aspek non-ekonomi juga mendapat sorotan. Azril mengatakan keselamatan, keamanan, dan mitigasi risiko menjadi faktor penting untuk membangun kepercayaan wisatawan dan mendorong kunjungan ulang yang berkelanjutan.
Ia menyarankan evaluasi daya dukung kawasan dan peninjauan ulang daftar destinasi prioritas agar pengembangan lebih terukur.
Rekomendasi pengembangan berbasis komunitas
Untuk memastikan manfaat pariwisata sampai ke masyarakat lokal, Azril mengusulkan beberapa strategi pengembangan:
- Pengembangan desa wisata berbasis masyarakat
- Pemberdayaan ekonomi pariwisata komunitas
- Penciptaan produk wisata spesifik seperti gastronomi dan health tourism
- Pembangunan kapasitas dan partisipasi warga dalam tata kelola destinasi
"Konsep mengembangkan pariwisata itu harus dari bawah yaitu dari masyarakat. Hal ini diperlukan untuk pengembangan secara ilmiah,"
Dengan menggabungkan pendekatan ilmiah, evaluasi destinasi, dan pemberdayaan komunitas, Azril yakin pariwisata Indonesia tidak hanya menarik lebih banyak wisatawan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar destinasi.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
KPAI Minta Pengawasan Ketat untuk Program MBG 3B
KPAI mendesak pengawasan ketat pada Program MBG 3B agar makanan untuk bumil, busui, dan balita aman, bermutu...
Pemerintah Targetkan Revisi UU LLAJ Rampung 2026
Pemerintah menyerahkan 1.200 DIM RUU LLAJ ke DPR dan menargetkan revisi diselesaikan pada 2026 agar dapat di...
Kemensos Buka Kanal WhatsApp untuk Pengaduan Sekolah Rakyat
Kemensos membuka kanal WhatsApp 0887-7171-171 pada 29 Sept 2026 untuk pengaduan Sekolah Rakyat, terbuka bagi...
Indonesia Jajaki Pengalaman India untuk Bangun Infrastruktur Publik Digital
Indonesia menjajaki pengalaman India membangun infrastruktur publik digital untuk integrasi layanan, kata Wa...
Kemacetan Pelabuhan Ketapang: ODOL, Demo, dan Solusi Bersama
Kemacetan di akses Pelabuhan Ketapang disebabkan ODOL, antrean Pelindo, dan demonstrasi; solusinya butuh pen...
Kemenbud Usulkan Tari Zapin ke UNESCO untuk Perkuat Pelestarian
Kementerian Kebudayaan mengusulkan Tari Zapin ke UNESCO (29 Sept 2026) untuk memperkuat pelestarian lintas g...