BPOM Perkuat Kolaborasi Regulatori ASEAN untuk Percepat Akses Produk Kesehatan
Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menyatakan Indonesia memperkuat kolaborasi regulatori dengan negara Asia Tenggara untuk mempercepat akses masyarakat terhadap produk kesehatan. Pernyataan disampaikan dalam forum Four Country Regulatory Roundtable bersama regulator dari Malaysia, Thailand, dan Singapura pada Kamis, 16 Juli 2026, yang berlangsung selama dua hari. Langkah ini menekankan penerapan regulatory reliance dan penilaian bersama guna mempercepat perizinan obat, vaksin, alat kesehatan, dan diagnostik secara aman dan efisien.
Delegasi, agenda, dan konteks pertemuan
Delegasi Indonesia bergabung dengan perwakilan otoritas kesehatan Malaysia, Thailand, dan Singapura. Hari pertama diisi paparan negara peserta mengenai kerangka kerja regulatori, cakupan produk, dan tantangan implementasi. Pertemuan ini adalah respons kawasan terhadap kebutuhan memperkuat ketahanan kesehatan pascapandemi COVID-19.
Pengalaman Indonesia dalam regulatory reliance
Taruna memaparkan pengalaman Indonesia menggunakan mekanisme reliance pathway untuk meningkatkan efisiensi evaluasi obat. Menurutnya, mekanisme ini memangkas waktu registrasi tanpa mengurangi independensi penetapan keputusan akhir oleh otoritas nasional.
“Indonesia telah mengimplementasikan mekanisme tersebut sejak 2011 dengan memanfaatkan hasil penilaian ilmiah dari otoritas regulator terpercaya. Namun tetap melakukan evaluasi dan menetapkan keputusan akhir secara mandiri,”
Taruna menambahkan bahwa penerapan reliance didukung oleh kerangka regulasi yang kuat, praktik pembuatan obat yang baik dari industri, serta sistem pengawasan yang selaras standar internasional. Status BPOM sebagai WHO-Listed Authority juga memperkuat posisi Indonesia untuk menjadi reference authority dalam kerja sama internasional.
Pembahasan teknis dan hasil sementara
Sesi diskusi menyorot konsep shared regulatory approach dalam kerangka Four-Country Regulatory Partnership (4CRP). Peserta membahas cakupan produk, tahapan siklus hidup produk, kesenjangan regulasi, serta faktor pendukung implementasi bersama.
- Pembahasan product life cycle dan titik kolaborasi teknis;
- Identifikasi tantangan dan kesenjangan kapasitas regulator;
- Pertimbangan work sharing, harmonisasi, dan joint assessment;
- Pembahasan ketersediaan obat, vaksin, alat kesehatan, dan diagnostik.
Langkah ke depan
Selama dua hari pertemuan, empat negara menyepakati perlunya pengembangan infrastruktur regulatori untuk mempercepat akses produk kesehatan yang aman dan bermutu. Indonesia menyatakan kesiapan mengikuti proyek percontohan joint scientific assessment dan mendukung penyusunan tata kelola serta peta jalan implementasi 4CRP yang selaras dengan harmonisasi regulasi ASEAN.
Kerja sama ini diharapkan mengurangi duplikasi penilaian, mengoptimalkan sumber daya regulator, dan mempercepat ketersediaan produk penting bagi masyarakat kawasan.
Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.
Berita Terkait
Bio Farma Luncurkan Bio-TCV, Vaksin Konjugat untuk Tekan Tifoid
Bio Farma meluncurkan vaksin Bio-TCV pada 15 Jan 2026 untuk menekan tifoid dan memperkuat kemandirian produk...
Skincare Minimalis: Rawat Kulit Hemat Tanpa Boros
Skincare minimalis memanfaatkan produk dasar seperti face wash, pelembab, sunscreen, dan spot treatment agar...
BPOM Siapkan Mekanisme Filter Produk untuk Kopdes Merah Putih
BPOM menyiapkan mekanisme filter produk untuk Kopdes Merah Putih agar hanya barang aman dan bermutu beredar;...
HUT ke-58 BPJS Kesehatan: JKN Capai 285 Juta Peserta
HUT ke-58 BPJS Kesehatan menandai kepesertaan JKN mencapai 285 juta jiwa; fokus pada digitalisasi, regulasi,...
Konsumsi Madu Rutin: Khasiat untuk Imunitas, Pencernaan, dan Stamina
Uji klinis menyebut satu sendok madu setiap pagi dapat memperkuat imunitas, meredakan radang tenggorokan, da...
Radang Tenggorokan Tak Kunjung Sembuh? 5 Makanan yang Direkomendasikan
Pilih makanan lembut dan bergizi seperti sup ayam, madu, oatmeal, yogurt, dan buah lembut untuk meredakan ra...