Kesehatan

Bio Farma Luncurkan Bio-TCV, Vaksin Konjugat untuk Tekan Tifoid

Bagikan:
Peluncuran vaksin Bio-TCV oleh Bio Farma di Jakarta pada Januari 2026

PT Bio Farma meluncurkan vaksin konjugat Bio-TCV pada 15 Januari 2026 di Jakarta untuk menekan penularan demam tifoid dan memperkuat kemandirian produksi vaksin nasional. Peluncuran berlangsung pada pameran kesehatan dan menandai capaian riset, transfer teknologi, serta evaluasi regulator.

Angka kasus dan urgensi pencegahan

Indonesia mencatat prevalensi tifoid sebesar 1,6% dari total populasi. Estimasi insidensi mencapai 148,7 per 100.000 orang secara nasional, menunjukkan beban penyakit yang masih signifikan.

Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus menyoroti bahwa WHO mencatat sekitar sembilan juta kasus tifoid global setiap tahun. Menurutnya, solusi pencegahan yang efektif sangat diperlukan untuk mengurangi beban ini.

"Kehadiran Bio-TCV menunjukkan bahwa melalui sinergi yang kuat, kita mampu memperkuat kemandirian dan ketahanan kesehatan nasional," ujar Benjamin Paulus Octavianus.

Kolaborasi riset dan perjalanan pengembangan

Pengembangan Bio-TCV merupakan hasil kolaborasi jangka panjang bersama International Vaccine Institute (IVI) yang dimulai pada 2010. Proses dilanjutkan dengan transfer teknologi sejak 2013 dan rangkaian uji klinis.

Direktur Utama PT Bio Farma Shadiq Akasya menyatakan vaksin ini lahir dari kerja sama riset, pengembangan, serta uji klinis bersama lembaga akademik dalam negeri.

"Bio Farma menghadirkan Bio-TCV sebagai bagian dari kontribusi kami dalam mendukung pencegahan demam tifoid sekaligus memperkuat ketahanan kesehatan nasional. Vaksin ini merupakan hasil kolaborasi jangka panjang bersama International Vaccine Institute (IVI) yang dimulai sejak 2010, dilanjutkan dengan transfer teknologi pada 2013, serta melalui proses riset, pengembangan, uji klinis bersama FKUI hingga memperoleh persetujuan regulator," ujar Shadiq Akasya.

"Kehadiran Bio-TCV mencerminkan kemampuan Indonesia membangun ekosistem pengembangan vaksin dari hulu hingga hilir, mulai dari riset hingga produksi, sehingga diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap vaksin dan mendukung penguatan sistem kesehatan nasional," katanya.

Regulasi, uji klinis, dan jaminan mutu

Kepala BPOM Taruna Ikrar menyatakan lembaganya mendampingi seluruh rangkaian pengembangan, dari uji klinis hingga evaluasi mutu dan keamanan. BPOM melakukan percepatan proses evaluasi tanpa mengurangi standar ilmiah.

"BPOM mendampingi seluruh proses pengembangan Bio-TCV, mulai dari uji klinis, standardisasi, proses produksi, hingga evaluasi untuk memastikan mutu, keamanan, dan khasiat vaksin. Proses evaluasi regulatori juga dilakukan secara dipercepat tanpa mengurangi standar ilmiah yang berlaku," kata Taruna Ikrar.

Uji klinis disebutkan melibatkan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, dengan fase satu hingga tiga dijalankan bersama pihak RSCM.

Fasilitas produksi dan prospek

Produsen di ekosistem Danantara terus meningkatkan kapasitas fasilitas produksi konjugasi. Peningkatan ini bertujuan membuka peluang ekspansi global melalui proses kualifikasi oleh otoritas internasional.

Langkah ini diharapkan tidak hanya memperluas akses vaksin bagi masyarakat, tetapi juga memperkuat kemandirian produksi obat dan vaksin Indonesia ke depan.

Dengan kehadiran Bio-TCV, pemerintah dan industri berharap penurunan kasus tifoid dapat dicapai melalui program imunisasi terarah dan peningkatan akses masyarakat terhadap vaksin berkualitas.

Putri Anindya
Penulis
Putri Anindya

Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.

Berita Terkait