Nasional

Kemhan: Peserta Latsarmil Meninggal karena TBC

Bagikan:
Ilustrasi pemeriksaan medis dan layanan rumah sakit terkait kasus TBC

Kementerian Pertahanan menyatakan satu peserta Latihan Bela Negara dan Manajerial (Latsarmil) meninggal dunia akibat tuberkulosis. Korban, Novia Rahmadhani Sihotang, wafat pada Selasa, 23 Juni 2026 pukul 15.13 WIB setelah dirawat di Rumah Sakit dr Esnawan Antariksa, Jakarta.

Ringkasan peristiwa dan penyebab kematian

Novia adalah salah satu dari lima calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan dan Kampung Nelayan Merah Putih yang meninggal saat mengikuti Latsarmil. Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Pertahanan, Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia, menyatakan hasil rekam medis menunjukkan penyebab kematian adalah tuberkulosis.

"Pada Selasa 23 Juni 2026 pada pukul 15.13 WIB, dokter menyatakan almarhumah meninggal dunia. Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, Almarhumah meninggal dunia akibat tuberculosis."

Kronologi perawatan

Sebelum dirujuk ke rumah sakit, Novia mengeluhkan batuk berdahak, sesak napas, dan demam. Ia datang ke unit kesehatan Latsarmil pada Senin, 22 Juni 2026 dan menjalani pemeriksaan awal serta diberi terapi dan pemantauan medis.

Kondisi Novia memburuk pada hari berikutnya. Tim medis merujuknya ke Rumah Sakit dr Esnawan Antariksa, di mana dilakukan pemeriksaan lanjutan termasuk foto thorax dan pemeriksaan laboratorium. Foto thorax menunjukkan tuberkulosis paru aktif. Novia dirawat di ruang ICU isolasi dan mendapat perawatan intensif sebelum dinyatakan meninggal.

Pemeriksaan kesehatan peserta dan perbedaan diagnosis

Tim kesehatan Kementerian Pertahanan, yang dipimpin Letkol TNI dokter Ihsan, menegaskan bahwa pemeriksaan sebelum mengikuti pelatihan dilakukan sesuai aturan (SPO). Pemeriksaan meliputi laboratorium, pemeriksaan fisik, dan rontgen.

Menurut Ihsan, pada pemeriksaan awal tidak ditemukan tanda TBC. Namun diagnosa di Rumah Sakit Esnawan menyatakan adanya tuberkulosis paru aktif. Ihsan juga menyebut adanya perdebatan internal soal apakah kondisi itu TBC atau pneumonia akibat virus.

"Saat pemeriksaan ronsen itu tidak terdapat TBC, sedangkan yang terakhir pada saat pemeriksaan itu adalah dari diagnosa Rumah Sakit Esnawan adalah TBC. Tetapi kalau TBC yang kami sempat berunding, sempat diskusi, itu bukan TBC tapi adalah pneumonia atau infeksi paru-paru yang disebabkan oleh virus,"

Implikasi dan langkah selanjutnya

Perbedaan antara temuan pemeriksaan awal dan diagnosa rumah sakit menjadi catatan penting bagi tim medis penyelenggara. Kasus ini menyorot perlunya pemantauan berkelanjutan terhadap peserta pelatihan dan ketelitian dalam pemeriksaan rujukan lanjutan. Kementerian menyampaikan kronologi dan hasil pemeriksaan sebagai upaya transparansi atas kejadian tersebut.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait