Nasional

NASA Pantau Titik Kebakaran di Kalimantan Saat El Niño

Bagikan:
Citra satelit menunjukkan titik kebakaran di Kalimantan pada 1 September 2026

Satelit NASA merekam lonjakan titik kebakaran di Kalimantan pada 1 September 2026. Pemantauan menunjukkan aktivitas kebakaran meningkat tajam seiring kekeringan yang diperburuk fenomena El Niño. Data dari instrumen MODIS pada satelit Aqua menunjuk sejumlah anomali panas yang diindikasikan sebagai kebakaran.

Pantauan satelit dan indikator kebakaran

Setiap titik merah pada citra satelit menandakan anomali panas yang umumnya terkait kebakaran. NASA dan lembaga pemantau lain menggunakan data hampir waktu nyata dari MODIS dan VIIRS untuk mendeteksi titik panas di daratan Indonesia.

Rekaman 1 September 2026 menunjukkan aktivitas yang meningkat dibanding minggu-minggu sebelumnya. Para peneliti mengamati pola yang mengingatkan pada musim kebakaran tahun 2015.

"Musim kebakaran Indonesia baru berlangsung sekitar tiga pekan. Namun, aktivitasnya telah menunjukkan pola peningkatan yang menyerupai kondisi pada 2015,"

kata Robert Field, peneliti dari Columbia University.

Data lokal dan keterbatasan pemantauan

Platform pemantauan kebakaran nasional mencatat 946 titik panas pada 31 Agustus 2026. Angka ini mencerminkan kombinasi laporan lapangan dan deteksi satelit.

Namun, satelit tidak selalu menangkap seluruh kejadian. Deteksi bisa gagal bila api membara di bawah permukaan lahan gambut, tertutup asap tebal, awan, atau kanopi vegetasi yang rapat.

Metode baru untuk mendeteksi kebakaran tersembunyi

Untuk menutup celah deteksi itu, para peneliti mengembangkan metode pemantauan berbasis data satelit resolusi lebih tinggi. Mereka memanfaatkan citra Landsat dan Sentinel-2 untuk mendeteksi perubahan vegetasi dan tanda terbakar yang luput dari MODIS dan VIIRS.

Metode ini dirancang khusus untuk mengidentifikasi kebakaran gambut yang menyala di bawah permukaan, serta mengonfirmasi area terbakar yang tidak jelas pada data resolusi rendah.

Dampak kebakaran dan perhatian publik

Kebakaran gambut menjadi fokus utama karena api dapat terus membara di bawah tanah. Kondisi ini menghasilkan polusi udara serius dan emisi gas rumah kaca dalam jumlah besar.

Asap dari kebakaran telah berdampak pada aktivitas masyarakat, termasuk pembelajaran jarak jauh di sejumlah sekolah, penutupan taman nasional, dan penundaan penerbangan. Kondisi ini menambah tekanan pada upaya pengendalian kebakaran dan kesehatan publik.

Pemantauan intensif dari satelit dan pengembangan metode deteksi lebih canggih dipandang krusial untuk respons cepat. Ke depan, sinkronisasi data satelit internasional dan pengamatan lokal menjadi kunci untuk menekan dampak kebakaran di Kalimantan.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait