KADIN: Industri Kendaraan Listrik Kurangi Emisi dan Buka Lapangan Kerja
KADIN menyatakan pengembangan industri kendaraan listrik di Indonesia berpotensi mengurangi emisi karbon, memangkas subsidi bahan bakar, dan membuka lapangan kerja baru. Pernyataan itu disampaikan Ketua Umum KADIN Anindya Bakrie pada Jumat, 28 Agustus 2026, saat menyoroti pentingnya pembangunan ekosistem kendaraan listrik secara menyeluruh.
Manfaat ekonomi dan lingkungan
Anindya menilai arah industrialisasi kendaraan listrik mampu memberi manfaat ganda: aspek lingkungan dan ekonomi. Menurutnya, penggunaan kendaraan listrik bisa menekan ketergantungan pada bahan bakar minyak dan beban subsidi negara.
Lebih jauh, ia menyebut industri ini membuka ruang bagi pertumbuhan sektor industri baru di dalam negeri. Hal itu berpotensi mendorong penciptaan pekerjaan berkualitas dan memperkuat daya saing nasional.
Kutipan langsung
“Ini merupakan upaya mandiri dari sisi industri dan juga dari aspek karbon bisa dikurangi. Dan juga mengurangi subsidi bahan bakar, dan juga membuka lapangan kerja,”
— Anindya Bakrie, Jumat, 28 Agustus 2026.
Kebutuhan penguatan ekosistem
Menurut Anindya, pengembangan kendaraan listrik tidak cukup hanya pada produksi akhir. Ia menekankan perlunya penguatan rantai nilai domestik, termasuk peningkatan kapasitas industri dan penggunaan komponen dalam negeri.
Ia juga menekankan pentingnya memastikan dampak lingkungan tetap optimal saat meningkatkan komponen lokal, sehingga tujuan industriisasi berkelanjutan dapat tercapai.
Prioritas kolaborasi
KADIN mendorong kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, dan pemangku kepentingan lain. Sinergi ini dianggap krusial agar ekosistem kendaraan listrik nasional berkembang seimbang dari hulu ke hilir.
Secara ringkas, KADIN menyoroti tiga fokus utama: memastikan manfaat lingkungan, mengurangi beban subsidi energi, dan membuka lapangan kerja melalui penguatan kapasitas industri nasional.
Implikasi dan prospek
Jika dijalankan konsisten, pengembangan industri kendaraan listrik dapat menjadi bagian dari strategi nasional untuk memperkuat daya saing industri. Selain itu, pergeseran ke kendaraan listrik berpotensi mendorong inovasi komponen lokal dan investasi sektor manufaktur.
Ke depan, keberhasilan akan bergantung pada kebijakan yang mendukung, investasi infrastruktur, dan komitmen peningkatan penggunaan komponen dalam negeri. KADIN berharap kolaborasi lintas sektor mempercepat transformasi tersebut demi manfaat ekonomi dan lingkungan yang lebih luas.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...