Ekonomi

Rupiah Tutup Menguat di Tengah Hati-hati Pasar Jelang Jackson Hole

Bagikan:
Ilustrasi pergerakan kurs rupiah terhadap dolar AS di layar perdagangan

Rupiah ditutup menguat pada Jumat, 28 Agustus 2026, seiring pelaku pasar bersikap hati-hati menjelang pidato Ketua the Fed, Kevin Warsh, di simposium Jackson Hole. Menurut data Bloomberg, rupiah naik 0,29 persen atau 51 poin menjadi Rp17.693 per dolar AS setelah bergerak positif sejak pembukaan hingga penutupan perdagangan.

Penguatan Terjadi Saat Pasar Menunggu Pidato The Fed

Pergerakan rupiah dipengaruhi ekspektasi pasar terhadap sinyal kebijakan moneter dari pidato Warsh. Ia dijadwalkan berbicara pada Jumat waktu AS pukul 10.00, dan pernyataannya dipantau ketat oleh investor global.

Ia dipantau ketat pasar. Mereka akan mencermati sinyal mengenai inflasi dan untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah suku bunga AS

Data AS Perumit Prospek Pelonggaran

Sentimen global juga dipengaruhi data Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi di AS yang menunjukkan penguatan, sehingga prospek pelonggaran moneter menjadi lebih rumit. Perangkat CME FedWatch memperlihatkan peluang 34 persen untuk kenaikan suku bunga pada September.

Perangkat yang sama menilai probabilitas 74 persen untuk kenaikan suku bunga the Fed pada Desember 2026. Ekspektasi ini membuat pasar global lebih berhati-hati, sehingga arus modal dan nilai tukar bergerak cermat.

Respon Pasar terhadap Penetapan Gubernur BI

Di pasar domestik, penetapan Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia oleh Komisi XI DPR RI mendapat respons positif dari investor. Namun demikian, pelaku pasar memilih menahan langkah agresif sembari menunggu data ekonomi dalam negeri.

Fokus pada Data Inflasi dan Perdagangan

Para pelaku pasar menunggu data inflasi resmi yang akan dirilis Badan Pusat Statistik pekan depan. Inflasi menjadi indikator utama bagi bank sentral dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.

Data inflasi menjadi indikator krusial bagi Bank Sentral dalam menentukan arah kebijakan moneter dan suku bunga ke depan. Inflasi yang terkendali dapat membuka ruang bagi pelonggaran kebijakan, sementara inflasi yang tinggi akan memaksa suku bunga tetap ketat

Selain itu, BPS juga akan merilis data perdagangan luar negeri yang mencerminkan kondisi pasokan dan permintaan, termasuk ketersediaan pangan. Jika laporan menunjukkan lonjakan impor pangan, itu bisa mengindikasikan pasokan domestik menipis dan biaya impor membebani neraca perdagangan—terlebih jika rupiah melemah.

Prospek Ke Depan

Sikap hati-hati pelaku pasar kemungkinan berlanjut hingga keluarnya data inflasi dan setelah pidato Kevin Warsh. Pergerakan rupiah ke depan akan sangat bergantung pada kombinasi sinyal kebijakan dari the Fed dan kondisi fundamental domestik, terutama data harga konsumen serta neraca perdagangan.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait