Ekonomi

Insentif Mobil Listrik NMC Perkuat Hilirisasi Nikel

Bagikan:
Ilustrasi mobil listrik dan pabrik baterai nikel di Indonesia

Pemerintah berencana memberikan insentif untuk kendaraan listrik berbasis baterai NMC pada 2026 di Indonesia. Kebijakan ini dimaksudkan untuk mempercepat hilirisasi nikel, memperkuat ekosistem baterai nasional, dan meningkatkan kedaulatan ekonomi melalui dukungan kebijakan fiskal dan regulasi.

Dukungan untuk industri baterai nikel

Pengamat dagang dan project coordinator ENTREV, Eko Adji Buwono, menilai insentif itu memberi sinyal kuat bagi pengembangan manufaktur berbasis nikel. Ia mengatakan kebijakan yang berpihak penting agar investasi dalam rantai pasok baterai dapat berkembang optimal.

"IBC saat ini merupakan satu-satunya perusahaan milik pemerintah yang mendapat mandat membangun dan mengembangkan industri baterai berbasis nikel. Tentunya tanpa didukung kebijakan yang memberikan prioritas terhadap baterai berbasis nikel untuk digunakan di dalam negeri, akan sulit berkompetisi dengan baterai berbasis LFP,"

— Eko Adji Buwono

Sebagai bagian dari manufaktur domestik, IBC melalui pabrik PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) di Karawang memiliki kapasitas produksi tahap awal sebesar 6,9 GWh. Kapasitas ini dimaksudkan menjadi fondasi pemenuhan kebutuhan kendaraan listrik nasional.

Rincian insentif kendaraan listrik

Menteri ESDM menyatakan pemerintah menyiapkan insentif untuk memperkuat ekosistem kendaraan listrik berbasis nikel. Sementara Menteri Keuangan mengungkap target program ini mencakup 100.000 unit mobil listrik dan 100.000 unit sepeda motor listrik pada tahun berjalan.

  • Insentif untuk sepeda motor listrik: Rp5 juta per unit.
  • Insentif untuk mobil listrik: skema PPN DTP 40%–100% tergantung kebijakan akhir.
  • Pemerintah mengkaji diferensiasi insentif berdasarkan jenis baterai, antara NMC dan non-nikel.

Dampak ekonomi dan prospek

Eko menyatakan pengembangan industri baterai berbasis nikel tidak hanya menambah nilai hilir mineral. Ia menekankan potensi penciptaan lapangan kerja, penarikan investasi, dan pengurangan ketergantungan impor.

"Sudah ada berbagai perhitungan mengenai dampak berlipat dari hilirisasi industri baterai. Yang paling nyata adalah peningkatan nilai tambah mineral, penciptaan lapangan kerja, serta pengurangan impor baterai maupun impor BBM seiring meningkatnya penggunaan kendaraan listrik,"

— Eko Adji Buwono

Dengan kebijakan yang komprehensif dan integrasi rantai pasok nikel, pemerintah berharap Indonesia bertransformasi dari eksportir bahan mentah menjadi produsen material serta produk bernilai tambah tinggi. Implementasi dan detail teknis insentif akan menjadi penentu seberapa cepat manfaat ekonomi tersebut terwujud.

Sarah Kurniawati
Penulis
Sarah Kurniawati

Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.

Berita Terkait