Lokal

Kabut Asap Redam Panen Karet di Sosopan, Produksi Turun 30%

Bagikan:
Petani karet di Sosopan memanen di tengah kabut asap akibat kebakaran lahan

Petani karet di Kecamatan Sosopan, Kabupaten Padanglawas, Sumatera Utara melaporkan penyusutan hasil panen hingga 30 persen akibat kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan pada musim kemarau. Pada Rabu (16/9) petani menyebut harga karet di tingkat petani berada di kisaran Rp16.000–Rp17.000 per kg, namun volume panen menurun sehingga pendapatan ikut tertekan.

Dampak produksi dan harga

Para penyadap di Sosopan menyatakan penurunan produksi paling terlihat dalam jumlah getah yang dihasilkan per minggu. Biasanya satu penyadap bisa mengumpulkan sekitar 100 kg dalam seminggu, kini hanya sekitar 70 kg.

Meski volume turun, harga jual per kilogram relatif stabil pada tingkat petani. Petani masih bisa memperoleh antara Rp600.000 hingga Rp700.000 per minggu dari hasil panen, namun angka itu lebih rendah dibanding kondisi normal.

Kronologi dan penyebab

Kabut asap yang menyelimuti wilayah terjadi pasca musim kemarau. Penyebab utama adalah kebakaran hutan dan lahan yang meluas di beberapa daerah di Sumatera Utara. Partikel asap mengganggu kondisi pohon karet dan proses pemanenan, sehingga menurunkan produktivitas pohon.

Saksi petani

Salah satu warga Desa Aekbargot bermarga Sihombing menyebut penurunan jelas terasa. "Biasanya dalam seminggu bisa dapat 100 kg, belakangan hanya 70 kg," kata dia. Pernyataan serupa datang dari petani lain, Kobul, yang memperkirakan penurunan produksi mencapai 30 persen.

"Bagaimanapun para petani sangat berharap agar cuaca ekstrim ini segera berakhir, kabut asap menghilang. Sehingga dengan situasi harga karet yang baik seperti ini bisa mendorong perbaikan ekonomi petani."

Konsekuensi dan harapan

Penurunan produksi menimbulkan kekhawatiran terhadap penghasilan jangka panjang petani karet, terutama jika kabut asap berlanjut. Meski harga per kg saat ini menguntungkan dibanding beberapa musim sebelumnya, volume yang menyusut membuat manfaatnya terbatas.

Petani berharap kondisi cuaca kembali normal dan kebakaran lahan segera ditangani untuk memulihkan produktivitas. Jika kabut asap hilang, pemulihan hasil panen diharapkan dapat memperbaiki kondisi ekonomi keluarga penyadap karet di wilayah tersebut.

Sarah Kurniawati
Penulis
Sarah Kurniawati

Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.

Berita Terkait