Lokal

Investasi Aceh Rp3 T Semester I 2026, Pemerintah Kejar Target

Bagikan:
Ilustrasi pembangunan dan investasi di Aceh dengan latar infrastruktur

BANDA ACEH — Realisasi investasi di Aceh hingga semester I 2026 tercatat sekitar Rp3 triliun atau 31% dari target Rp9,8 triliun. Pemerintah provinsi mendorong penguatan sektor unggulan, industrialisasi, dan perbaikan iklim investasi untuk mengejar target tersebut.

Realisasi, tantangan, dan dampak ekonomi

Data yang dipaparkan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Aceh menunjukkan capaian investasi belum sejalan dengan pemulihan ekonomi. Pada 2025 realisasi mencapai sekitar Rp9 triliun dari target hampir Rp9,5 triliun (sekitar 95%). Namun pada triwulan IV 2025 ekonomi Aceh terkontraksi 1,61%, sehingga pertumbuhan tahun 2025 hanya 2,97%.

Pemerintah mengaitkan perlambatan itu dengan dampak bencana, kerusakan sarana-prasarana, kenaikan biaya logistik, dan tekanan biaya hidup yang menekan daya beli masyarakat.

Percepatan rekonstruksi harus dilakukan melalui kolaborasi semua pihak, terutama dengan pemerintah pusat, agar rekonstruksi Aceh pascabanjir bandang terlaksana tepat waktu

Fokus strategi peningkatan investasi

Pemerintah Aceh menetapkan empat fokus utama untuk mendorong pertumbuhan investasi jangka panjang. Langkah ini diharapkan tidak hanya menaikkan angka realisasi, tetapi memberi dampak ekonomi nyata bagi masyarakat.

  • Infrastruktur dan energi — termasuk peluang dari penemuan gas di Blok South Andaman.
  • Agroindustri — mendorong pengolahan komoditas lokal menjadi produk bernilai tambah.
  • Pariwisata — memaksimalkan potensi wilayah untuk menarik investor dan wisatawan.
  • Pengembangan kawasan investasi — optimalisasi KEK Arun, PPS Lampulo, KPBPB Sabang, dan kawasan industri lain.

Meski punya potensi, kawasan-kawasan strategis itu belum banyak menarik investor. Pemerintah menilai perbaikan infrastruktur, kepastian regulasi, dan penyusunan paket proyek siap tawar perlu diprioritaskan.

Investasi yang melibatkan masyarakat

Penyelenggara DPMPTSP menekankan investasi harus inklusif dan berkelanjutan. Aspek environmental, social, and governance (ESG) perlu menjadi bagian dari setiap proyek.

Kami tidak bangga dengan angka-angka, tetapi berupaya melakukan komunikasi dan koordinasi dengan pihak terkait agar investasi ke depan berdampak positif secara inklusif dan berkelanjutan kepada masyarakat Aceh

Investor diharapkan melibatkan tenaga kerja lokal, memberikan pelatihan, dan transfer teknologi. Selain itu, peningkatan kapasitas SDM, digitalisasi layanan publik, akses pembiayaan, dan kepastian regulasi menjadi syarat penting menarik modal jangka panjang.

Prospek dan langkah ke depan

Pemerintah Aceh juga berencana memperbaiki citra daerah untuk menarik minat investor, dengan menyampaikan informasi akurat tentang keamanan dan peluang ekonomi. Upaya terpadu pada infrastruktur, penguatan pasar, dan peningkatan daya saing tenaga kerja diharapkan menjadikan investasi sebagai penggerak pertumbuhan yang inklusif.

Dengan strategi yang terarah, investasi ditargetkan tidak hanya memenuhi angka nominal, tetapi betul-betul memperkuat ekonomi lokal dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Aceh.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait