Jakarta Incar Jadi Pusat Produksi Film Internasional
Jakarta — Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengumumkan rencana menjadikan ibu kota sebagai pusat produksi film internasional pada pembukaan Jakarta Film Summit 2026, Selasa lalu di Park Hyatt Jakarta. Tujuannya menarik produksi asing, memperluas kerja sama luar negeri, dan meningkatkan kontribusi industri film terhadap perekonomian lokal.
Ambisi internasional dan posisi Jakarta
Pramono menilai Jakarta sudah menjadi pusat industri film Indonesia, namun perlu melampaui pasar domestik untuk bersaing di tingkat regional. "Jakarta is already the center of Indonesia’s film industry. However, we do not want to compete only in our home market. We want Indonesian films to compete internationally, at least at the ASEAN level," ujarnya pada acara bertema “Jakarta Shaping the Future of Film.”
Potensi lokasi dan tenaga kreatif
Menurut Pramono, sekitar 80% rumah produksi dan pembuat film Indonesia berkumpul di Jakarta. Kota ini juga menyimpan lebih dari 100 lokasi syuting, mulai dari kawasan bersejarah hingga pusat bisnis modern, yang dinilai strategis untuk menarik proyek internasional.
Jakarta Film Commission dan insentif
Wakil Gubernur Rano Karno menyatakan pemerintah daerah telah membentuk Jakarta Film Commission (JFC) untuk memperkuat ekosistem film lokal dan menyederhanakan proses produksi. Melalui inisiatif Filming in Jakarta, JFC akan memfasilitasi persyaratan syuting, termasuk koordinasi antar-instansi dan pemrosesan izin.
Kerja sama internasional
Pemerintah provinsi aktif menjajaki kerja sama luar negeri untuk membuka peluang bagi pembuat film lokal dan menarik produksi asing. Rano menyebut rencana kerja sama dengan Netflix, pembicaraan dengan pihak Turki, serta pertemuan dengan British Council untuk mengeksplorasi kolaborasi lebih lanjut.
Dampak ekonomi dan pengukuran
Pramono menyatakan ekonomi kreatif Jakarta memberi kontribusi besar, yaitu Rp410,56 triliun (US$22,8 miliar) atau setara 11,16% dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) kota. Angka itu mencakup seluruh subsektor ekonomi kreatif, bukan hanya film.
Pemprov berencana bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) untuk mengukur dampak ekonomi dari 21 subsektor ekonomi kreatif, termasuk film. Pramono menekankan produksi film juga membuka peluang bisnis bagi sektor lain seperti pariwisata, hotel, restoran, transportasi, dan pelaku UMKM.
Data penonton dan peluang pasar
Menurut Pramono, bioskop Indonesia menarik hampir 122 juta penonton pada 2025, termasuk sekitar 85 juta yang menyaksikan film lokal. Sementara itu, total kunjungan bioskop nasional tercatat hampir 70 juta hingga Oktober 2026. Angka-angka ini menggambarkan peluang pasar domestik yang dapat dimanfaatkan Jakarta saat mengincar peran lebih besar di kancah regional.
Langkah ke depan
Melalui Jakarta Film Summit, pemerintah provinsi menargetkan peningkatan daya saing dengan fokus pada:
- penyederhanaan proses izin dan regulasi,
- penawaran insentif bagi produksi,
- peningkatan dukungan logistik dan infrastruktur syuting,
- perluasan kerja sama internasional dan jejaring distribusi.
Upaya itu dirancang agar Jakarta tidak hanya mengandalkan pasar domestik, melainkan juga menjadi pusat produksi yang menarik bagi pemain internasional dan mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di ibu kota.
Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.
Berita Terkait
Playlist Rewind 2026: Festival Musik Nostalgia Hadir Lagi di Bandung
Playlist Rewind 2026 kembali ke Bandung dengan promotor Playmaker, menampilkan Peterpan, Raisa, Burgerkill,...
Jakarta Rampungkan Revitalisasi 16 Gedung Sekolah, 3 Masih Berjalan
Pemprov DKI rampungkan revitalisasi 16 dari 19 gedung sekolah program 2025 dengan anggaran Rp876,79 miliar;...
Bocelli Bela Konser di Indonesia: Musik, Bukan Politik
Andrea Bocelli membela konser Borobudur (31 Okt) dan Jakarta (3 Nov) setelah desakan MUI; ia tegas konser un...
Kontroversi Tip di Bali: Wisatawan Domestik vs Asing
Pernyataan senator soal wisatawan asing yang lebih dermawan memicu protes Ni Luh Djelantik dan perdebatan te...
KLTA Gandeng B-Universe Perkuat Promosi Pariwisata Kuala Lumpur
KLTA dan B-Universe menjalin kerja sama promosi pariwisata Kuala Lumpur, termasuk rencana Travel Trade Expo...
Sejarah dan Makna Motif Batik Kapal Kandas Indramayu
Pada Hari Jadi Indramayu, motif Batik Kapal Kandas dikenalkan kembali sebagai rekam visual kehidupan pesisir...