BPS: Potensi Inflasi Iduladha Didominasi Harga Pangan
Badan Pusat Statistik (BPS)Rakor Pengendalian Inflasi 2026 di Jakarta, Senin, 25 Mei 2026.
Data historis dan tren inflasi Iduladha
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, memaparkan bahwa secara historis momen Iduladha kerap diikuti oleh inflasi. Hal ini terlihat dari series data sejak 2022 hingga 2025, dengan pengecualian pada 2024 yang mencatat deflasi.
“Pada momen Hari Raya Idul Adha, kalau kita lihat series sejak 2022 hingga 2025, terlihat bahwa secara umum pada momen Idul Adha terjadi inflasi. Kecuali pada Idul Adha di tahun 2024, di mana pada tahun tersebut terjadi deflasi,”
Pudji menambahkan bahwa tingkat inflasi pada Iduladha biasanya lebih rendah dibandingkan inflasi saat Ramadan dan Idulfitri, berdasarkan rekam jejak nasional 2022–2025.
Penyumbang utama: makanan dan harga bergejolak
Menurut BPS, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi pada momen Iduladha hampir setiap tahun. Komponen lain yang dominan adalah harga bergejolak.
Pudji menyebutkan komoditas pangan dari kelompok harga bergejolak seringkali menjadi pemicu utama. Dua komoditas yang paling konsisten mendorong kenaikan harga adalah cabai rawit dan cabai merah.
“Kemudian kalau kita lihat menurut komponen. Komponen harga bergejolak ini menyumbang andil inflasi terbesar pada momen Hari Raya Idul Adha di tahun 2022 dan 2025,”
Imbauan menjaga keseimbangan harga
Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri, Tomsi Tohir, menekankan pengendalian inflasi harus menjaga keseimbangan antara perlindungan konsumen dan keberlangsungan produsen. Ia mengingatkan agar harga tidak ditekan sampai membuat petani dan peternak merugi.
“Jadi kewajiban kita pada saat rapat koordinasi inflasi ini bukan hanya supaya harga turun serendah-rendahnya. Namun, demikian ada juga batas serendah yang dapat mengakibatkan peternak itu merugi atau gulung tikar,”
“Nah, ini kewajiban kita untuk menjaga agar produsen atau pembeli itu membeli tidak terlalu mahal. Tetapi petani dan peternak juga menjual tidak terlalu mahal, tapi juga tidak jatuh sehingga dia merugi,”
Implikasi dan outlook
Ringkasnya, BPS mengingatkan bahwa pengendalian inflasi Iduladha perlu fokus pada stabilisasi harga pangan yang bergejolak, khususnya cabai. Koordinasi antar lembaga dan pengawasan pasokan akan menjadi kunci untuk menahan tekanan harga tanpa merugikan produsen.
Pemantauan lanjut pada komoditas rentan dan respons kebijakan yang tepat akan menentukan apakah inflasi pada momen Iduladha berikutnya dapat dikelola lebih baik.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
P2MI Gandeng Kemenkum dan Kemen PPPA Perkuat Perlindungan PMI
P2MI bekerja sama dengan Kemenkum dan Kemen PPPA untuk memperkuat perlindungan pekerja migran dari hulu samp...
PERSAGI: Standar Bahan Baku Kunci Keberhasilan Program MBG
PERSAGI minta BGN perkuat standar bahan baku MBG untuk memastikan kecukupan gizi bagi bumil, busui, balita,...
DPR Dukung Pelarangan Vape jika Disalahgunakan untuk Narkoba
DPR mendukung pelarangan vape jika produk itu digunakan sebagai pintu masuk narkoba; pemerintah minta pengaw...
PPATK: Perputaran Dana Judi Online Rp40,3 Triliun Triwulan I 2026
PPATK: perputaran dana judi online mencapai Rp40,3 triliun pada Triwulan I 2026; QRIS makin dominan dan modu...
Polri dan Kemnaker Selesaikan Sengketa PHK 134 Pekerja, Bayar Rp12,7 Miliar
Desk Ketenagakerjaan Polri dan Kemnaker menyelesaikan sengketa PHK 134 pekerja PT Amos Indah Indonesia denga...
Prabowo: Gagasan Bukan Baru, Intinya Tegakkan UUD 1945
Presiden Prabowo menegaskan gagasannya adalah menegakkan UUD 1945, terutama Pasal 33 dan 34, saat berpidato...