Pensiunan Jual Kopi dari Kebun Kulon Progo di Belakang Pasar Ngasem
Yogyakarta — L. Ernawan Edy Hartanto (61), pensiunan pegawai negeri, mengisi waktu luangnya dengan menjalankan kedai kopi kecil di teras rumahnya, belakang Pasar Ngasem. Kedainya bernama Belum Ada Nama dan menjual kopi siap santap serta biji kopi per gram, sebagian berasal dari kebunnya di Kulon Progo.
Awal mula dan jam operasional
Ernawan memulai usaha ini sebagai pekerjaan sampingan sejak 2011. Awalnya dia melayani pelanggan hanya pada sore hari setelah pulang dari pekerjaan utama. Saat ini kedai buka setiap hari mulai pukul 06.30 hingga 16.00, melayani warga sekitar dan penggemar kopi yang mencari suasana khas Jogja.
Sumber biji kopi dan hubungan dengan petani
Ernawan menekankan sumber kopi yang langsung ia beli dari petani tanpa perantara. Beberapa biji memang berasal dari kebunnya sendiri di Kulon Progo. Tujuan utama metode ini adalah memastikan petani mendapat harga yang layak.
"Semua kopi kami datangkan dari petani langsung, kami tidak berhubungan dengan agen. Tujuannya kami membantu petani agar mereka dibeli dengan harga baik," ucap Ernawan, Kamis 23 Juli 2026.
Menu dan pengalaman pelanggan
Kedai menyajikan variasi menu kopi yang dapat dinikmati di tempat atau dibawa pulang dalam bentuk biji per gram. Pelanggan dapat menanyakan asal dan perbedaan tiap jenis kopi secara langsung kepada pemilik. Pendekatan personal ini menjadi nilai lebih bagi pengunjung.
"Menurut aku vibesnya kayak Jogja banget, dari musik yang diputar saja ketoprak ya kak jadi sangat menarik," ujar Indah, pengunjung asal Krapyak.
Indah menambahkan bahwa komunikasi langsung tentang profil rasa tiap kopi membantu pelanggan memilih sesuai selera.
Dampak lokal dan prospek
Model usaha Ernawan memperlihatkan bagaimana kedai skala kecil bisa mendukung petani lokal sekaligus menawarkan pengalaman khas bagi penikmat kopi. Keberadaan kedai di lokasi "hidden gem" seperti belakang Pasar Ngasem juga membantu mempertahankan karakter lokal dan menarik pengunjung yang mencari nuansa autentik.
Dengan konsistensi sumber biji dan pendekatan personal, kedai ini berpotensi menjadi contoh usaha kopi rumahan yang berkelanjutan dan berdampak langsung ke petani.
Analis bisnis yang mengulas perkembangan industri, korporasi, dan peluang investasi.
Berita Terkait
Bunga Utang Capai Rp394,1 T, APBN Agustus 2026 Defisit
Pembayaran bunga utang mencapai Rp394,1 triliun hingga Agustus 2026, membuat APBN tercatat defisit Rp240,1 t...
Pembiayaan Utang Capai Rp506 T hingga Agustus 2026
Realisasi pembiayaan utang neto Rp506 triliun hingga 31 Agustus 2026, setara 60,8% dari target APBN 2026; SB...
IHSG Melemah 0,33% ke 6.441,15 pada Penutupan Jumat
IHSG turun 0,33% ke 6.441,15 pada penutupan Jumat; volume 32,6 miliar saham dan nilai transaksi Rp19,2 trili...
Penerbitan SBN 2026 Tetap Sesuai Rencana, Defisit APBN 2,85%
Kemenkeu: penerbitan SBN hingga akhir 2026 on track untuk penuhi pembiayaan dan jaga outlook defisit APBN 2,...
Sharp Indonesia Raih Dua Penghargaan PR Pilihan Jurnalis 2026
Sharp Indonesia dan Andry Adi Utomo meraih dua penghargaan Journalists’ Choice di Indonesia PR of the Year 2...
AXA dirikan AXA Sharia Life untuk perluas proteksi syariah
AXA mendirikan AXA Sharia Life Insurance dan mendapat izin OJK untuk memperkuat layanan asuransi syariah di...