Ekonomi

IHSG Turun 1,25% ke 6.099 Saat Jeda Siang, Pasar Waspada

Bagikan:
Grafik IHSG turun ke level 6.099 pada jeda siang 22 Juni 2026

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada jeda siang perdagangan Senin, 22 Juni 2026, turun 1,25 persen atau 77,21 poin ke level 6.099,93 setelah dibuka di 6.217,04. Indeks sempat menyentuh level tertinggi 6.226,72 dan terendah 6.052,94.

Perkiraan pergerakan dan sentimen pasar

Tim analis memproyeksikan IHSG akan terkonsolidasi pada perdagangan hari ini dengan potensi penguatan terbatas namun masih berisiko koreksi. Phintraco Sekuritas memperkirakan rentang perdagangan pekan ini berada di 6.100-6.250.

"Secara teknikal, IHSG diperkirakan akan konsolidasi,"

Faktor eksternal yang membayangi

Sentimen global memberi tekanan. Mayoritas indeks saham di Eropa dan Asia ditutup melemah akhir pekan lalu menyusul keraguan pasar terhadap perjanjian perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran.

Ketegangan meningkat setelah Iran kembali menutup Selat Hormuz, sementara serangan masih berlangsung di Lebanon. Kondisi ini membuat investor skeptis terhadap kelangsungan perjanjian tersebut.

Agenda data ekonomi yang diawasi investor

Selain geopolitik, pelaku pasar juga memperhatikan serangkaian data ekonomi AS yang dapat memengaruhi pasar global.

  • Personal Consumption Expenditures (PCE) atau indeks harga konsumsi pribadi
  • Pemesanan barang tahan lama
  • Indeks sentimen konsumen Universitas Michigan
  • Survei regional Federal Reserve

Phintraco memproyeksikan PCE inti Mei 2026 naik 0,3 persen (m/m), meningkat dari 0,2 persen pada April. Proyeksi inflasi PCE tahun 2026 dan 2027 sempat direvisi naik oleh The Fed.

Fokus domestik: likuiditas dan review MSCI

Dari dalam negeri, data jumlah uang beredar menjadi perhatian untuk menilai kondisi likuiditas perekonomian. Investor juga menantikan hasil Annual Market Classification Review dari MSCI yang akan memengaruhi status pasar Indonesia.

"Laporan tersebut akan menentukan status Indonesia di Emerging Market,"

Hasil review sebelumnya menyorot kriteria information flow, khususnya ketersediaan informasi pasar modal dalam bahasa Inggris. Bursa Efek Indonesia (BEI) berencana mengklarifikasi temuan ini dengan perwakilan MSCI.

Pelaksana Tugas Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menyatakan pihaknya akan meminta penjelasan dari MSCI dan menegaskan bahwa BEI telah mewajibkan seluruh emiten menyampaikan laporan keuangan dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Imbasnya, pasar diperkirakan akan tetap berhati-hati hingga rilis data AS dan klarifikasi MSCI keluar, yang berpotensi meningkatkan volatilitas di sesi-sesi mendatang.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait