Ekonomi

Rupiah Melemah saat Dolar AS Tekan, Dibuka di Rp17.813

Bagikan:
Grafik pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saat dibuka melemah

Rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada Senin, 22 Juni 2026, tertekan oleh kekuatan dolar dan prospek kenaikan suku bunga The Fed. Menurut data Bloomberg, rupiah dibuka di Rp17.813 per dolar AS, turun 0,05 persen atau sembilan poin dari penutupan sebelumnya.

Pembukaan pasar dan proyeksi analis

Analis dari Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana, memproyeksikan rupiah masih berpotensi terdepresiasi. Ia memperkirakan kurs bergerak mendekati Rp17.850 per dolar AS dalam waktu dekat.

"Rupiah kemungkinan terdepresiasi pada kisaran Rp17.850 per dolar AS,"

Penyebab tekanan: geopolitik dan ekspektasi suku bunga

Menurut Fikri, dinamika perdamaian antara AS dan Iran menjadi salah satu faktor utama yang menekan mata uang emerging market, termasuk rupiah. Ia menyebut kondisi kesepakatan masih rapuh sehingga pasar tetap berhati-hati.

"Perjanjian perdamaian antara dua negara itu masih sangat rapuh,"

Selain itu, pelaku pasar memperkirakan kenaikan suku bunga The Fed akan berlangsung lebih cepat tahun ini. Ekspektasi itu menguatkan dolar AS, yang turut menekan nilai tukar rupiah.

Indeks dolar dan pandangan ekonom

Indeks dolar AS diproyeksikan bertahan kuat di sekitar level 100. Ekonom Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, menilai tekanan terhadap rupiah kemungkinan berlanjut ke depan jika kondisi eksternal tetap menekan.

"Kami melihat tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih berlanjut ke depan,"

Peran Bank Indonesia dan kondisi SBN

Rully menilai apresiasi rupiah baru-baru ini lebih banyak didorong oleh intervensi Bank Indonesia di pasar valas. Salah satu mekanismenya adalah melalui pembelian Surat Berharga Negara (SBN), yang dilakukan lebih besar dibandingkan pembelian oleh pihak asing.

Data menunjukkan kepemilikan SBN oleh Bank Indonesia naik ke rekor Rp2.087,4 triliun, setara sekitar 30,2 persen dari outstanding. Selain itu, nilai SBN yang digunakan dalam operasi moneter mencapai rekor Rp361,9 triliun, menandakan BI aktif memanfaatkan portofolio SBN untuk injeksi likuiditas.

Di sisi lain, kenaikan suku bunga dan imbal hasil belum mendorong masuknya investor asing ke SBN secara signifikan. Rully menyebut kepemilikan asing di SBN tercatat naik sekitar Rp4,2 triliun per 18 Juni 2026 sejak kenaikan pertama BI Rate bulan lalu.

Dampak dan prospek ke depan

Sekalipun rupiah menunjukkan kinerja relatif lebih baik dibanding beberapa mata uang lain seperti yen, euro, dan pound, tekanan eksternal dan ekspektasi kebijakan The Fed diperkirakan tetap menjadi faktor dominan. Jika ketidakpastian geopolitik atau ekspektasi suku bunga meningkat, tekanan pada rupiah kemungkinan berlanjut.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait