IHSG Turun 1,53% ke 6.267,88 pada 11 Agustus 2026
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,53 persen pada perdagangan Selasa, 11 Agustus 2026, atau turun 97,40 poin ke level 6.267,88. Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan penurunan terjadi setelah sesi yang bergerak fluktuatif dan meningkatnya kekhawatiran global tentang pasokan energi.
Pergerakan pasar dan statistik hari ini
Pada sesi pertama, IHSG berfluktuasi di rentang 6.291,19 hingga 6.388,58, dan sempat terkoreksi 1,15 persen sebelum ditutup di level 6.309,87. Secara keseluruhan, tekanan terlihat dari jumlah saham yang turun signifikan.
Hingga penutupan, tercatat 542 saham turun, 141 saham naik, dan 108 saham stagnan. Pergerakan saham relatif melemah seiring sentimen berhati-hati dari pelaku pasar.
Sektor yang terdampak dan saham unggulan
Sektor utilitas mencatat pelemahan terdalam, turun 1,38 persen. Sektor lain yang juga turun adalah finansial (-1,14 persen), teknologi (-1,03 persen), properti (-1,00 persen), dan konsumer non-primer (-0,98 persen). Penurunan sektor-sektor ini menjadi tekanan utama bagi indeks.
Beberapa saham mencatat penguatan, sedangkan lain mengalami koreksi tajam. Berikut daftar saham dengan pergerakan terbesar hari ini:
- Penguat terbesar: CSMI, STAR, YPAS, FAST, KJEN
- Penurun terbesar: IKBI, SULI, BAIK, GMFI, TALF
Pemicu eksternal dan dampaknya
Pelemahan pasar tak lepas dari sentimen eksternal. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas karena tuntutan Teheran terkait kompensasi dan penghentian sanksi sebagai syarat pembukaan kembali Selat Hormuz. Kondisi ini mendorong kenaikan harga minyak mentah global.
Tim Pilarmas Investindo mencatat harga minyak melonjak hampir 5 persen akibat kebuntuan diplomatik tersebut. Lonjakan harga energi ini memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi inflasi dan tekanan untuk kenaikan suku bunga di masa mendatang.
Sentimen domestik dan prospek jangka pendek
Di dalam negeri, para pelaku pasar memilih bersikap hati-hati menjelang rilis data penjualan ritel domestik. Menurut Tim Pilarmas, kehati-hatian ini dipicu oleh data sebelumnya yang menunjukkan penurunan tajam pada Mei 2026 setelah kenaikan harga BBM nonsubsidi.
"Ini mengikuti penurunan tajam pada Mei 2026 yang dipicu kenaikan harga BBM nonsubsidi," ujar Tim Pilarmas.
Secara keseluruhan, kombinasi faktor eksternal dan data domestik membuat investor menahan aliran dana ke pasar saham. Jika ketegangan geopolitik mereda dan data ritel menunjukkan perbaikan, pasar berpotensi pulih. Namun, kenaikan harga energi dan risiko inflasi akan tetap menjadi indikator yang diawasi.
Pasar akan mencermati rilis data ekonomi mendatang serta perkembangan geopolitik sebagai penentu arah IHSG dalam pekan berikutnya.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
IHSG Melemah 0,87% ke 6.309 pada Jeda Perdagangan 11 Agustus
IHSG turun 0,87% ke 6.309,90 pada jeda perdagangan 11 Agustus; sentimen pencalonan Gubernur BI, konflik AS-I...
Pembiayaan UMKM Tembus Rp1,948 Triliun, OJK: Akses Masih Tantangan
OJK: pembiayaan UMKM mencapai Rp1,948,72 triliun per Juni 2026, namun akses pembiayaan formal masih menjadi...
Ekspor Makanan dan Minuman Indonesia Masih Tertinggal dari Permintaan Global
Ekspor makanan dan minuman olahan Indonesia tumbuh 5,44% per tahun, masih di bawah permintaan global 7,7%, m...
RI dan India Siapkan PTA, Bahas Setelah Reviu AITIGA Selesai
Indonesia siapkan PTA dengan India; pembahasan teknis akan dimulai setelah reviu AITIGA mencapai kesimpulan...
Kemenperin Buka Akses IKM Logam ke Rantai Pasok Industri Besar
Kemenperin fasilitasi kemitraan IKM logam dengan industri besar di Jawa Barat (29-30 Juli 2026) untuk memper...
Indonesia Buka Opsi PTA dengan Mercosur, Brasil Diminta Fasilitasi
Indonesia tawarkan opsi PTA dengan Mercosur; Brasil diminta fasilitasi agar negosiasi lebih cepat dan akses...