IHSG Menguat ke 5.744,56 pada 2 Juli 2026
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada perdagangan Kamis, 2 Juli 2026. IHSG naik 49,44 poin atau 0,87 persen menjadi 5.744,56 setelah bergerak di zona hijau sepanjang hari karena sentimen makro yang beragam.
Penutupan pasar dan pergerakan indeks
IHSG dibuka pada level 5.709,84 dan sempat menyentuh titik tertinggi 5.806,72 serta terendah 5.704,49 sebelum akhirnya berakhir di 5.744,56. Sentimen perdagangan didorong oleh data makro yang menunjukkan pelemahan manufaktur dan kejutan pada neraca perdagangan.
Aktivitas saham dan likuiditas
Pergerakan saham relatif luas. Sebanyak 395 saham menguat, 219 saham melemah, dan 169 saham stagnan. Likuiditas pasar tercatat tinggi dengan volume perdagangan mencapai 20,25 miliar saham dan nilai transaksi sekitar Rp10,87 triliun.
| Statistik | Angka |
|---|---|
| Penutupan (Close) | 5.744,56 |
| Perubahan | +49,44 poin (+0,87%) |
| Pembukaan (Open) | 5.709,84 |
| Tertinggi (High) | 5.806,72 |
| Terendah (Low) | 5.704,49 |
| Volume | 20,25 miliar saham |
| Nilai transaksi | Rp10,87 triliun |
Faktor makro yang memengaruhi
Tim Phintraco Sekuritas mencatat beberapa data ekonomi yang menekan prospek pasar. Pertama, Purchasing Manufacturing Index (PMI) Indonesia untuk Juni 2026 turun ke level 46,9, kembali ke zona kontraksi setelah berada di level 50 pada bulan sebelumnya.
"Penurunan PMI antara lain disebabkan koreksi pada pesanan baru dan turunnya penjualan ekspor,"
Kedua, neraca perdagangan menunjukkan defisit tak terduga sebesar USD1,61 miliar pada Mei 2026. Defisit ini timbul karena ekspor turun 5,73 persen sementara impor naik 22,16 persen secara tahunan, melampaui ekspektasi sebelumnya.
Ketiga, inflasi tahunan melonjak ke 3,34 persen pada Juni 2026 dari 3,08 persen bulan sebelumnya, lebih tinggi dari perkiraan 3,2 persen. Menurut Tim Phintraco, kenaikan harga bahan bakar Pertamax sejak 10 Juni 2026 menjadi pemicu utama lonjakan inflasi.
"Ini merupakan level inflasi tertinggi sejak Maret 2026, tetapi masih dalam kisaran target Bank Indonesia,"
Penilaian risiko dan sentimen investor
Fitch Ratings menilai cadangan devisa Indonesia masih tertekan meski Bank Indonesia sudah menaikkan BI rate sebanyak 100 basis poin. Phintraco menyoroti kekhawatiran pasar terkait kredibilitas kebijakan dan disiplin fiskal, termasuk rencana ekspor melalui perusahaan tertentu.
"Sentimen investor masih lemah akibat kekhawatiran akan kredibilitas kebijakan dan disiplin fiskal,"
Secara keseluruhan, penguatan IHSG hari ini mencerminkan respons pasar terhadap kombinasi data makro negatif dan likuiditas yang masih memadai. Ke depan, pergerakan indeks akan tetap bergantung pada perkembangan data ekonomi domestik dan sinyal kebijakan moneter.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
IHSG Menguat 26,91 Poin pada Pembukaan Kamis
IHSG menguat 26,91 poin (0,47%) pada pembukaan Kamis ke level 5.709,84, dipengaruhi sentimen The Fed dan dat...
IKI Juni 2026: Indeks Kepercayaan Industri Capai 52,90
Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Juni 2026 mencapai 52,90, menunjukkan manufaktur tetap ekspansif meski ter...
Tekanan Dolar AS, Rupiah Dekati Rp18.000 per Dolar
Rupiah melemah ke Rp17.983 per dolar pada 2 Juli 2026, tertekan kenaikan imbal hasil AS dan sentimen domesti...
Harga Emas Antam Naik Rp15.000 per Gram pada 2 Juli 2026
Harga emas Antam naik Rp15.000 per gram pada 2 Juli 2026; 1 gram dijual Rp2.640.000 dan buyback Rp2.345.000,...
Kementrans Ubah Kawasan Transmigrasi Jadi Ekosistem Ekonomi
Kementrans akan mengubah kawasan transmigrasi menjadi ekosistem ekonomi, dorong industrialisasi, hilirisasi,...
IHSG Diprakirakan Terkonsolidasi Usai Data Ekonomi Mengejutkan
IHSG diperkirakan terkonsolidasi pada 2 Juli 2026 setelah PMI turun, neraca perdagangan defisit, dan inflasi...