Nasional

Menkomdigi: Hoaks Provokatif Marak Jelang HUT ke-81 RI

Bagikan:
Menkomdigi Meutya Hafid beri pernyataan soal peredaran konten hoaks provokatif

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid memperingatkan maraknya konten hoaks yang berisi provokasi di ruang digital menjelang HUT ke-81 Republik Indonesia. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers di Kantor Kemkomdigi, Jakarta, Senin, 3 Agustus 2026, terkait gelombang penyebaran video dan narasi menyesatkan yang dinilai untuk memicu emosi publik.

Tren hoaks meningkat menjelang 17 Agustus

Meutya menyebut tren penyebaran konten provokatif meningkat khususnya mendekati perayaan kemerdekaan. Ia menilai tujuan konten tersebut adalah menyulut kemarahan publik di saat masyarakat sedang menyambut peringatan nasional.

"Kita mencermati dalam mendekati Agustus ini terutama menjelang Hari Kemerdekaan kita, bahwa banyak sekali konten-konten hoax yang diproduksi. Untuk melakukan provokasi-provokasi terhadap kondisi yang baik saat ini,"

Jenis konten hoaks yang beredar

Menurut Menkomdigi, bentuk hoaks di ruang digital bermacam-macam. Beberapa pola yang disebutkan antara lain:

  • Hoaks murni: kejadian fiktif yang dibuat dan disebarkan seolah nyata.
  • Hoaks gabungan: penggabungan potongan video atau gambar dari berbagai sumber sehingga konteks berubah.
  • Video lama yang dipakai kembali dengan narasi baru sehingga menyesatkan tentang waktu atau lokasi kejadian.
  • Video dari negara lain yang diklaim terjadi di Indonesia.

"Teman-teman harus melihat videonya. Jadi ada yang betul-betul hoax, artinya kejadian yang tidak ada kemudian ditayankan, ada yang namanya hoax gabungan,"

Imbauan kepada publik

Menkomdigi meminta masyarakat lebih berhati-hati menerima dan membagikan informasi di media sosial. Ia menekankan pentingnya memeriksa sumber video, waktu unggahan, dan konteks sebelum menyebarluaskan.

Selain itu, pemeriksaan fakta dan verifikasi sederhana seperti melihat metadata, mencari sumber asli, atau menunggu klarifikasi resmi dapat mengurangi penyebaran narasi palsu.

Dampak dan langkah ke depan

Konten hoaks yang diproduksi untuk provokasi berpotensi mengganggu ketentraman saat momen nasional. Pemerintah dan platform digital diharapkan meningkatkan pemantauan dan tindakan cepat terhadap konten yang menyesatkan.

Publik diimbau tetap tenang, mengutamakan sumber resmi, dan melaporkan konten mencurigakan ke kanal yang disediakan otoritas atau platform untuk mencegah eskalasi.

Pengawasan bersama antara pemerintah, penyedia platform, dan masyarakat menjadi kunci menekan peredaran disinformasi, terutama pada periode sensitif seperti peringatan kemerdekaan.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait