Gen Z Jadi Motor Penanggulangan Bencana di Magetan
Magetan — Anggota Komisi B DPRD Kabupaten Magetan, Rita Haryati, menekankan peran strategis generasi Z dan pemuda dalam penanggulangan bencana saat sosialisasi Perda Nomor 9 Tahun 2015 di Desa Blaran, Kecamatan Barat, Rabu (14/10/2026). Kegiatan yang didominasi siswa dan pemuda itu menyoroti peran teknologi, kesiapsiagaan mandiri, dan integrasi mitigasi di sektor pariwisata.
Gen Z dan peran di penanggulangan bencana
Peserta sosialisasi berasal dari remaja desa hingga siswa SMAN 1 Barat kelas XI. Rita menilai kedekatan generasi muda dengan teknologi digital menjadi modal penting untuk membangun budaya sadar bencana.
Ia mengajak pemuda tidak hanya sebagai penerima informasi, tetapi juga sebagai penggerak edukasi mitigasi dan peringatan dini di komunitas masing-masing.
Manfaatkan media sosial untuk informasi kebencanaan
Rita menekankan bahwa kecepatan informasi berperan besar mengurangi risiko saat bencana. Platform seperti TikTok, Instagram, dan X dapat dipakai untuk menyebarkan pesan kesiapsiagaan secara cepat dan terarah.
"Generasi muda bisa memanfaatkan kedekatan mereka dengan teknologi dan media sosial untuk menyebarkan informasi kebencanaan secara cepat dan terarah," ujar Rita di hadapan para siswa dan pemuda Karang Taruna.
Menurutnya, informasi yang teredukasi melalui platform digital membantu membentuk respons masyarakat yang lebih siaga dan tidak panik saat darurat.
Siapkan Tas Siaga dan latih kemampuan lapangan
Rita mengajak anak muda Magetan untuk melakukan aksi nyata, seperti berpartisipasi di komunitas kepemudaan, mengikuti pelatihan mitigasi hidrometeorologi dan geologi, serta simulasi pertolongan pertama.
Salah satu langkah praktis yang disarankan adalah menyiapkan Tas Siaga Bencana (TSB) berisi dokumen penting, obat-obatan, dan pakaian darurat sebagai antisipasi awal pra-bencana.
"Pemahaman dan langkah antisipasi harus dimulai sejak dini. Hal sederhana seperti menyiapkan tas siaga bencana yang berisi dokumen penting, obat-obatan, dan pakaian darurat sangat vital saat kondisi kritis," jelasnya.
Ia menegaskan bahwa prioritas utama saat bencana adalah keselamatan jiwa, bukan harta benda.
Mitigasi bencana dan pengelolaan pariwisata
Sosialisasi juga mengulas Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah (Ripparda) Kabupaten Magetan. Rita meminta agar pengembangan pariwisata berjalan sejalan dengan prinsip keselamatan dan mitigasi terpadu.
Menurutnya, kawasan wisata harus mengedepankan sistem mitigasi demi perlindungan wisatawan dan kelestarian budaya lokal.
Melalui kegiatan ini diharapkan pelajar dan pemuda Desa Blaran tidak sekadar menjadi penonton, melainkan menjadi agen perubahan yang responsif terhadap potensi bencana di wilayahnya. Keterlibatan aktif generasi muda dinilai penting untuk mempercepat penyebaran edukasi, memperkuat kesiapsiagaan keluarga, serta mendukung kebijakan daerah terkait keselamatan publik.
Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.
Berita Terkait
Puan Minta Perlindungan Menyeluruh bagi Korban Karhutla
Puan Maharani minta pemerintah perkuat perlindungan warga terdampak karhutla, bukan hanya pemadaman tetapi j...
Surabaya siapkan 50 Ha lahan pemakaman di Sumberejo
Pemkot Surabaya menyiapkan lahan cadangan 50 hektare di Sumberejo untuk kebutuhan pemakaman Surabaya Barat,...
Demang Sambang: Dimas Pratama Serap Aspirasi Petani Tulungagung
Dimas Pratama menggelar Demang Sambang di Ngunut dan Sumbergempol, menyerap aspirasi petani dan menyosialisa...
Trenggalek Siapkan Sumur Bor untuk Atasi Kekeringan Desa
Ketua DPRD Trenggalek rencanakan pembangunan sumur bor untuk atasi kekeringan berulang di desa-desa, setelah...
MJC Dorong Digitalisasi 2.574 Pasar Rakyat di Jawa Timur
MJC diusulkan melibatkan 100 talenta muda untuk mendigitalisasi 2.574 pasar rakyat Jatim, membuka pemasaran...
Digitalisasi 2.574 Pasar Jatim Libatkan Talenta Muda lewat MJC
MJC diusulkan mendigitalisasi 2.574 pasar rakyat Jawa Timur dengan melibatkan talenta muda untuk pemasaran d...